Surwandono's Blog

Siapa yang menang dalam konstruksi terorisme

by Surwandono UMY | 22.03 in |

Dialektika Konstruski Terorisme

Surwandono

Dosen Fisipol UMY dan Kandidat Doktor Ilmu Politik UGM

Terdapat pertanyaan yang menyembul menjelang pelaksanaan eksekusi terhadap Tri Bom Bali, siapakah sejatinya yang memenangkan dalam diskursus perang melawan terorisme? Hal ini terkait dengan masifnya upaya pemerintah untuk melakukan kebijakan preventif terhadap berbagai kemungkinan terjadinya sabotase dan tindakan kekerasan untuk mengekspresikan kesiapsiagaan pemerintah untuk memenangkan diskursus melawan teroris. Jelas, upaya memobilisasi kekuatan tersebut membutuhkan energy, baik fisik dan non fisik yang sangat banyak. Sedangkan, trio bom Bali dan fihak keluarga beserta TPM, tampak sangat tenang dan tidak menunjukkan ketegangan amat sangat. Apakah pemerintah dan aparat keamanan berhasil memenangkan perang tersebut atau justru Imam Samudera dkk. Yang paling menyakitkan adalah, pemerintah Australia tetap melakukan travel warning bagi warga negaranya yang akan dan berada di Indonesia untuk segera meninggalkan Indonesia, meskipun pemerintah Indonesia telah melakukan segala daya show of force kekuatan represif untuk mengendalikan stabilitas dan keamanan.

Pertanyaan ini juga sudah sering terlontar, untuk ditujukan kepada pemerintah Amerika Serikat, apakah Amerika Serikat memenangkan proses melawan terorisme atau justru Osama bin Ladin dan George Bush yang justru memenangkannya. Hal ini terkait dengan besarnya energy yang telah dialokasikan regim Bush untuk kampanye dan aksi melawan teroris. Amerika Serikat justru terpeleset ke dalam tindakan-tindakan yang tak terukur dalam menyelesaikan terorisme, sehingga Amerika Serikat justru difahami sebagai bagian dari terorisme.

Perang Konstruksi

Adalah Peter L Berger yang telah menjadi bapak konstruksivisme modern, yang melihat realitas sebagai dialektika antara eksternalisasi fakta, objektivikasi dan internalisasi. Yakni bagaimana seseorang melihat fakta secara eksklusif sampai kemudian menemukan sebuah kebenaran obyektif yang diakui secara sosial, dan akhirnya terinternalisasi dalam pandangan masyarakat untuk melihat sesuatu.

Fakta tentang terorisme sejatinya bisa dibaca bahwa konstruksi keberadaan terorisme justru lebih sering diproduksi pemerintah Indonesia bersama dengan kekuatan asing dibandingkan dengan kekuatan teroris itu sendiri, hal ini terkait dengan upaya pemerintah untuk segera memiliki UU yang khusus mengatur tentang terorisme, yang sejatinya masih bisa dikelola dengan KUHP. Agar UU tersebut menjadi sesuatu yang obyektif, perlu fakta riil yang membentuk suatu fakta besar bahwa terorisme telah menjadi realita dan niscaya. Lahirnya serentetan aksi terror di tahun 2002 sampai dengan 2005, memperkokoh asumsi kepentingan asing dan pemerintah bahwa terorisme telah mangejawantah di Indonesia.

Dalam proses eksternalisasi ini, pemerintah dan kekuatan asing sepertinya memenangkan perang wacana bahwa terorisme telah menjadi ancaman yang paling serius bagi bangsa Indonesia. Hal ini dilakukan dengan publikasi dan sosialisasi yang massif terhadap kekuatan daya rusak dari jaringan terorisme yang sangat kuat, militant, dan latent. Pemerintah kemudian menyebar berbagai bentuk imbauan dan meminta partisipasi warga masyarakat untuk memerangi terorisme. Tanpa partisipasi aktif masyarakat, maka aparat keamanan pemerintah tidak akan berdaya menghadapi aktivitas teroris. Nalar ini sangat kuat dibangun pemerintah selama ini.

Apakah dengan eksternalisasi terorisme tersebut pemerintah Indonesia mampu memenangkan perang wacana, bagaimanakah obyektifikasi yang hadir di masyarakat? Di sinilah akar masalahnya, eksternalisasi yang berlebih-lebihan tentang konstruksi terorisme justru menyebabkan objektivikasi terhadap terorisme menjadi bias dan tidak clear. Banyak kalangan bisa jadi selama kurun waktu 2 minggu terakhir menjadi sangat direpotkan, berkeluh kesah dengan kontruksi adanya payung ancaman terorisme di se-antero negeri, para aparat keamananpun menjadi sangat direpotkan dengan berbagai aktivitas pencegahan, dan pengawasan di pos-pos strategis.

Pertanyaan, jika memang pemerintah Indonesia telah memenangkan perang dalam proses eksternalisasi terosrime, harusnya intelejen dan Densus 88 anti-terror, sudah bisa memberikan informasi dan peran yang akurat untuk melakukan pre-emptive strike, early warning system sehingga aktivitas terorisme sudah bisa dikendalikan dalam tataran yang minimal. Public dan satuan keamanan tidak perlu lagi dipenati oleh kekhawatiran adanya payung ancaman yang sangat kuat layaknya payung ancaman adanya bencana yang maha dahsyat, sehingga berlaku kondisi siaga satu, awas, maupun waspada.

Eksternalisasi yang berlebih-lebihan terhadap kekuatan jaringan terrosrime justru membuat obyektifikasi di masyarakat terhadap pemerintah menjadi minor. Kebijakan pemerintah Indonesia justru terdikte oleh nalar-nalar dan alur fikir yang dikembangkan oleh aktivis terror, sebagaimana halnya pernah dialami oleh Amerika Serikat yang terdikte oleh perilaku politik Osamah bin Laden. Terorisme yang selama ini dikonstruksi pemerintah sebagai musuh yang sangat kuat justru juga telah mendelegitimasi kekuatan militer Indonesia yang memiliki ketrampilan dan piranti yang canggih yang bisa mengeliminasi aktivitas terror tanpa dengan show of force yang berlebih-lebihan.

Bagaimana halnya dengan dialektika internalisasi? Meminjam pengalaman dari AMerika Serikat, kekalahan perang konstruksi dalam obyektivikasi justru akan merambat ke dalam kekalahan dalam internalisasi. Pertanyaannya adalah siapakah yang sejatinya mendapatkan keuntungan dari perang konstruksi terorisme. Pemerintah, pelaku terror, ataukah elit politik? Kita bisa membaca konstruksi perang terhadap terorisme di Filipina. Filipina telah menjadi Negara yang justru mendapatkan injeksi dan infuse bantuan ekonomi dan militer semenjak eksperesi kekecewaan masyarakat Moro terhadap kebijakan Estrada maupun Aroyyo yang plin-plan dengan menggunakan instrument kekerasan. Regim Arroyo, justru mampu bertahan menghadapi berbagai kudeta militer dan ancaman impeachment Conggres, bukan karena dukungan public yang kuat agar Aroyyo tetap menjadi presiden Filipina namun lebih karena Aroyyo di mata Amerika Serikat sebagai sekutu setia dalam menghadapi terorisme internasional.

Contoh yang juga paling anyar terkait dengan jual beli politik-ekonomi kasus terorisme adalah mundurnya Perves Musharaf sebagai presiden di Pakistan pasca kemenangannya dalam Pemilu secara menyakinkan. Alasan yang paling sederhana mengapa Musharraf mundur lebih kurang karena mulai merosotnya ancaman terorisme Islam di Pakistan pasca penghancuran Musharraf terhadap komunitas fundamentalisme Islam di Masjid Merah. Penghancuran situs kekerasan di Masjid Merah justru telah menyebakan Musharraf kehilangan legitimasi di tingkat domestic dan kehilangan dukungan dari Amerika Serikat karena ancaman kelompok fundamentalis anti AMerika Serikat di Pakistan sudah berkurang. Maka tidak ada perlunya lagi membela Musharraf yang memang tidak demokratis dan berlumuran darah.

Bagaimana dengan kontruksi internalisasi terorisme di Indonesia, apakah elit politik yang dapat keuntungan? Adalah sangat menarik membuka tulisan Rizal Buendia, seorang pakar terorisme di Asia Tenggara, bahwa sejatinya dalam perang dan konstruksi kekerasan, yang paling mendapatkan keuntungan adalah elit. Elit bisa memaknai dan mengelola kekerasan dan konflik untuk membangun kepentingan dan legitimasinya. Adalah menjadi bijak jika para elit di Indonesia mulai cerdas dalam mensikapi aktivitas kekerasan dan terorisme dengan mengeksternalisasinya secara elegan, sehingga akan menghasilkan obyektifikasi dan internalisasi yang produktif dalam memerangi terorisme. Semoga.

0 komentar:

Profile

Curicullum Vitae

1. Name: Surwandono,S.Sos, M.Si
2. Place and Birth: Bantul, May 2 , 1971
3. Sex: Man
4. Address: Kadirojo RT 09 Bantul Yogyakarta Indonesia 55713
5. Mobile Phone: +628562880312
6. e-mail: surwan04@yahoo.com. au
7. Department: International Relation Department
8. University: University of Muhammadiyah Yogyakarta
9. Education: Under-graduate (Airlangga University) Post-Graduate (Gadjah Mada University)and Ph. D candidate in Political Science at Gadjah Mada University

Research
a.The dynamics of Strategic Opportunity and Legislation on Final Peace Agreement 1996 (2008
b. Conflict and Negotiation in Mindanano (2007)
c. Muhammadiyah and The New Islamic Organization (2006)
d. Muhammadiyah and Power 2005
e. Relation between Political Geography and Conflict in Southeast Asia, 2004
f. Conflict and Poverty in South Asia, 2003
g. Conflict Resolution in Islamic Perspective, 2002
h. Relation between Political Geography and Conflict in Middle East, 2001
i. The Political Thought of Ibnu Taimiyyah and Ghazali About Islamic State, 1999
j. Democratization in Islamic World: The Studies of Democratization in Pakistan and Iran, 1999
k. Women Leadership in Islamic World: The Study of Women Leadership in Pakistan, 1998

Book
Islamic Political Thought, Yogyakarta, LPPI UMY, 2000
International Conference of Social and Humanitarian (ICOSH), on Universitas Kebangsaan Malaysia, March, 13-15 2007, Former Rebellion Movement in Power: A Challenge of Performance Proofing

Local, National and International Presentation, Trainer and Consultant
a. Trainer for Civic Education in Medan, 2003
b. Trainer for Civic Education in Palembang, 2003
c. Trainer for Civic Education in Yogyakarta, 2003
d. Trainer for Student Leadership in Yogyakarta, 2006
e. Presenter on Iran Nuclear Seminar in Yogyakarta, , 2006
f. Presenter on Iraq Conflict Seminar in Yogyakarta, 2007
g. Writer for Academic Writing for RPP (Draft for Government Regulation) Sabang, Gadjah Mada University, 2007
h. Consultant and Writer for Document about Kampong Papua Resilience, Partnership Program for Papua, 2008
i. International Conference of Social and Humanitarian (ICOSH), on University Kebangsaan Malaysia, March, 13-15 2007, Former Rebellion Movement in Power: A Challenge of Performance Proofing
j. Advanced Seminar: Focus on The Philippines, August, 4-9, SEASREP, UPI, Diliman, Manila, Philippines, 2008

Publication in News Paper
1. Unbalanced Security Council: Analysis from Islamic World Perspective, Republika, 2005
2. Ten Agenda from Israel to occupy Palestine, Republika, 2005
3. Separatism of GAM (Aceh Liberation Movement) from Islamic Perspective, Republika, 2005
4. Framing to Iran Nuclear: Analysis from Islamic Perspective, September 2005
5. Bali Boom II and Free Rider, Republika, 2005
6. The Scenario of Israel to Iran Nuclear, Republika, 2006
7. Iran Nuclear and Jews Propaganda, Republika, 2006
8. Political Trap to HAMAS, Republika, 2006
9. To Explore Poverty in Islamic World, Republika, 2006
10. To Discuss Coup d'état theory, Republika, 2006
11. Lipsticks Democracy, Republika, 2006
12. Metamorphosis of HAMAS, Republika, 2006
13. Looking for Holocaust Actor, Republika, 2006
14. The sign of Israel Decline, Republika 2006
15. Media and Iran War, Koran Tempo, 2006
16. Bush and Political Turbulent, Koran Tempo, 2006
17. Regime Trials and Errors, Koran Tempo, 2006
18. Who are Citizens, Seputar Indonesia, 2006
19. The Construction of Poso Conflict, Republika, 2006
20. Iraq and ABC Theory, Republika, 2007
21. Poso Conflict and Public Trust, Republika, 2007
22. Poso and Fogging DPO (Most Wanted People), Republika, 2007
23. The High Cost of Democracy, Republika, 2007
24. Democracy in Naivete, Republika, 2007
25. To Warn Politicization of Negotiation, Republika, 2007
26. The Tradition of Political Party, Seputar Indonesia, 2007
27. “Trias Politica” without the Publics, Seputar Indonesia , 2007
28. Who are sick: Nation or Regime, Seputar Indonesia, 2007
29. The Innocent Regime, Seputar Indonesia, 2007
30. Iran and the Martyr of Nuclear Democratization, Seputar Indonesia, 2007
31. The bankrupt of Military system, Seputar Indonesia, 2007
32. To understand arrestment of terrorist, Seputar Indonesia, 2007
33. To understand Separatism, Republika, 2007
34. Understanding political “silaturahmi”, Republika, 2007
35. Who does get benefits from Democracy, Republika, 2007
36. Crisis and Sect, Koran Tempo, 2007
37. Marginalization to Poor People, Republika, 2007
38. Disaster after Disaster, Seputar Indonesia, 2007
39. Understanding Monks Action, Seputar Indonesia, 2007
40. Fasting Democracy, Republika, 2007
41. Transformation for Political Party, Koran Tempo, 2008
42. To Politicize National Coalition, Koran Tempo, 2008
43. To Politicize Nobel Award, Koran Tempo, 2008
44. The Politic of “Jenang” (Pie) and “Jeneng” (Honor), Republika, 2008
45. Re-reading Peace Process in Mindanao, Republika, 2008

Publication in Journal
1. Lesson from Iran: Revolution to Democracy, Strategy Journal, Fisipol UMY, 2003
2. Estimating conflict resolution in Islamic World, International Relation Journal, Fisipol UMY, 2005
3. Relation poverty and conflict in South Asia, International Relation Journal, Fisipol UMY, 2006
4. Former Rebellion Movement in Power: A Challenge of Performance Proofing, International Relation Journal, Fisipol UMY, 2007

Leadership Experience
1. Secretary of International Relation Department, Faculty of Social and Political Science, University of Muhammadiyah Yogyakarta, 1999-2000
2. Secretary of Public Service Board, University of Muhammadiyah Yogyakarta, 1999-2000
3. Head of Public Services Board (LPM), University of Muhammadiyah Yogyakarta, 2000-2002
4. Head of Consortium for Public Services Board (LPM) in Yogyakarta, 2002-2003
5. Vice Dean for Academic Affairs, Faculty of Social and Political Science, University of Muhammadiyah Yogyakarta, 2003-2005
6. Director for Grant Competition Program(PHK-A-3) in International Relation Department, Faculty of Social and Political Science, University of Muhammadiyah University, Higher Education Program, Indonesia Ministerial for Education, 2006-2007