Surwandono's Blog

Membangun Nalar ukhuwah

by Surwandono UMY | 22.32 in |

“KAUKUS UKHUWAH” versi Anak Muda
Surwandono
Dosen Fisipol UMY dan Kandidat Doktor Ilmu Politik UGM
MUI Kota Yogyakarta, Ahad 19 Oktober 2008 mengundang penulis untuk mengadakan dengar pendapat tentang konsepsi dan operasionalisasi nilai ukhuwah dalam rangka menghadapi proses politik dalam Pemilihan Umum dan Pemilihan Presiden 2009. Pertemuan ini dilandasi pemikiran antisipatif, bahwa banyaknya partai politik yang menggunakan identitas Islam, ataupun memobilisasi aspirasi umat Islam, seringkali jatuh dalam praktik kampanye negative ataupun melakukan black campaign yang seringkali mencederai nilai ukhuwah itu sendiri.
Nilai ukhuwah dalam tataran politik praktis, lebih sering diabaikan daripada diamalkan, hanya karena memperebutkan suara dari kalangan umat Islam. Ukhuwah hanya menjadi nilai-nilai langit yang sulit untuk diimplementasikan dalam tataran praktis. Masyarakat seakan membenarkan nalar politik realis, tidak ada kawan dan musuh sejatinya, yang abadi adalah kepentingan itu sendiri. Ukhuwah bisa jadi bisa ditinggalkan bahkan dibuang jauh-jauh, jika ternyata ukhuwah menganggu pencapaian kepentingan politik.
Tingkat Kesadaran Berukhuwah
Adalah Paolo Freire yang melakukan kategorisasi tentang derajat kesadaran manusia dalam 3 tiga golongan. Pertama, kesadaran magis, yakni orang melakukan sesuatu lebih karena pengaruh dari nilai ataupun norma-norma yang mana tidak disertai dengan keinginan ataupun kesadaran untuk menginternalisasi dan mengoperasionalkan nilai tersebut dalam tindakan praktis. Kesadaran ini hanya melahirkan tutur lisan yang tidak mangejawantah dalam tindakan. Dalam konteks ini, al-Qur’an melakukan sindiran dengan ungkapan antaquulu maa laa taf’aluuna, hanya bisa mengatakan tapi tak bisa melaksanakan.
Kedua, kesadaran naïf, yakni sebuah kesadaran yang dibangun secara parsial. Kesadaran yang hanya membimbing seseorang melakukan tindakan sesuatu, jika sesuatu tersebut menguntungkan dirinya sendiri. Kesadaran ini ditandai dengan memilih-milih, kebenaran bisa jadi hanya menjadi “pepesan” jika kebenaran tersebut menguntungkan dirinya. Dalam konteks ini, al-Qur’an juga melakukan sindiran dengan ungkapan, wa minnansi mayya’budullaha ‘alal harfin, (ada sebagian manusia yang menyembah kepada Alloh, hanya di pinggiran saja).
Ketiga, kesadaran kritis, yakni suatu kesadaran yang terbangun dari proses kontemplasi dan internalisasi nilai melalui proses verifikasi obyektif. Orang akan melakukan sesuatu yang diyakini benar, apapun resiko yang akan diterima. Kesadaran ini membangun pola fikir seseorang lebih mengutamakan nilai daripada hasil yang ia peroleh jika ia melakukan sesuatu yang diyakini sebagai sebuah kebenaran. Dalam konteks ini, al-Qur’an juga memberikan pujian kepada Ismail AS yang mau menerima pilihan untuk disembelih oleh sang ayahnya, Ibrahim, karena Ismail dilandasi sebuah kesadaran bahwa pilihan dan perintah Alloh tidak pernah bersifat zalim. Ungkapan al-Quran sangat jelas dalam tutur doa, Rabbana maa khalaqta hadzaa bathilan. (Sungguh yaa Tuhanku, Engkau tiada ciptakaan sesuatu dalam keadaan sia-sia).
Nalar Ukhuwah Anak Muda
Dalam forum tersebut, terbangun sebuah komitmen seperti layaknya sebuah “kaukus ukhuwah”: pertama, bahwa para pemimpin partai politik berbasis Islam ataupun bermassakan Islam, di kota Yogyakarta, sebagian besar mulai diisi oleh para anak muda, yang menyampaikan komitmen secara lugas untuk menanggalkan berbagai bentuk caci-maki, sumpah serampah, fitnah, mencari-cari kesalahan fihak lain, untuk memperoleh dukungan dari masyarakat. Kedua, para anak muda ini secara sadar akan menanggalkan ashabiyyah kepartaiaan ketika menyikapi terjadinya konflik antar partai dalam proses pemilu. Menilik dari “kaukus ukhuwah”, terdapat harapan besar bahwa “fitnah ukhuwah” dalam proses politik 2009, akan bisa dieliminasi sedemikian rupa sampai titik terendah. Ketiga, ada suatu kecenderungan besar bahwa para pemimpin muda ini lebih memilih dan setia menjadi “pengurus” daripada menjadi “caleg” sebelum mereka bisa mengendalikan diri mereka sendiri. Keempat, para pemimpin muda lebih memilih terjaganya tali “ukhuwah” dalam proses politik daripada memenangkan proses politik tetapi dengan mencederai ukhuwah.
Dalam pembacaan penulis, tampak bahwa para pemimpin muda sedang melakukan konstruksi politik baru dan progresif, yakni politik berbasis ukhuwah dan bukan politik berbasis kepentingan. Politik berbasis ukhuwah diyakini akan lebih produktif dibandingkan politik berbasiskan kepentingan. Sehingga, muncul nalar yang sangat menarik, “Tidak ada kepentingan yang paling abadi dalam politik, kecuali “kepentingan” untuk senantiasa berukhuwah.
Nalar yang progresif di atas, menarik untuk ditelisik dan diseminasikan lebih jauh ke tingkat bawah di level ummat dan didesiminasikan ke tingkat atas di level elit politik nasional. Menarik ditelisik, bagaimana kesadaran akan nalar ini justru lahir dari kalangan muda, yang seringkali khasanah yang dikuasai anak muda adalah khasanah wacana dan bukan pengalaman asam dan garam politik kekuasaan.
Setidaknya terdapat 3 hal yang menarik untuk ditelisik lebih jauh. Pertama, apakah yang mendorong para anak muda ini memiliki nalar yang sangat bijak, yang seakan mampu melintasi umurnya. Apakah ini terbangun dari keputusasaan para generasi muda ketika kalah bersaing dalam proses politik dengan politisi tua yang oligharkis. Atau berasal dari kesadaran kritis anak muda yang melakukan breakthrough sebagaimana nalar yang pernah dikembangkan Ismail AS. Langkah identifikasi ini penting, agar nalar ini tidak hanya sekedar menjadi wacana belaka, namun bisa ditransformasikan ke dalam struktur partai politik, organisasi social bahkan dalam kelembagaan Negara.
Kedua, apapun alasan kemunculan nalar tersebut, komitmen sudah dibuat, sehingga yang tak kalah penting adalah memperkuat daya tahan nalar tersebut dari gerusan nalar-nalar pragmatis dan oppurtunis. Organisasi social perlu memberikan apresiasi dan advokasi agar nalar tersebut terus menggelinding sehingga bisa memberikan sibghah (warna) bagi paradigm politik kekuasaan. Dengan menguatnya nalar politik ukhuwah, suasana proses politik tidak lagi dipenuhi dengan intrik-intrik, serang-menyerang namun akan diisi dengan dialektika penyelesaian masalah secara konstruktif, dan bermartabat.
Ketiga, mendesiminasikan nalar ini menjadi nalar kesadaran kritis, bahwa nalar ini adalah nalar fitrah, otonom, akuntabel, sehingga nalar ini tidak hanya sekedar menjadi “mesin cuci” bagi para politisi yang kalah bersaing dalam panggung politik, ataupun para politisi yang sudah teramat banyak membuat dosa dengan menggadaikan ukhuwah. Dengan menjadi kesadaran kritis, maka nalar ini akan mampu memproteksi dan membendung para politisi yang oppurtunistik yang hendak mencemarinya. Wallohu a’lam.

0 komentar:

Profile

Curicullum Vitae

1. Name: Surwandono,S.Sos, M.Si
2. Place and Birth: Bantul, May 2 , 1971
3. Sex: Man
4. Address: Kadirojo RT 09 Bantul Yogyakarta Indonesia 55713
5. Mobile Phone: +628562880312
6. e-mail: surwan04@yahoo.com. au
7. Department: International Relation Department
8. University: University of Muhammadiyah Yogyakarta
9. Education: Under-graduate (Airlangga University) Post-Graduate (Gadjah Mada University)and Ph. D candidate in Political Science at Gadjah Mada University

Research
a.The dynamics of Strategic Opportunity and Legislation on Final Peace Agreement 1996 (2008
b. Conflict and Negotiation in Mindanano (2007)
c. Muhammadiyah and The New Islamic Organization (2006)
d. Muhammadiyah and Power 2005
e. Relation between Political Geography and Conflict in Southeast Asia, 2004
f. Conflict and Poverty in South Asia, 2003
g. Conflict Resolution in Islamic Perspective, 2002
h. Relation between Political Geography and Conflict in Middle East, 2001
i. The Political Thought of Ibnu Taimiyyah and Ghazali About Islamic State, 1999
j. Democratization in Islamic World: The Studies of Democratization in Pakistan and Iran, 1999
k. Women Leadership in Islamic World: The Study of Women Leadership in Pakistan, 1998

Book
Islamic Political Thought, Yogyakarta, LPPI UMY, 2000
International Conference of Social and Humanitarian (ICOSH), on Universitas Kebangsaan Malaysia, March, 13-15 2007, Former Rebellion Movement in Power: A Challenge of Performance Proofing

Local, National and International Presentation, Trainer and Consultant
a. Trainer for Civic Education in Medan, 2003
b. Trainer for Civic Education in Palembang, 2003
c. Trainer for Civic Education in Yogyakarta, 2003
d. Trainer for Student Leadership in Yogyakarta, 2006
e. Presenter on Iran Nuclear Seminar in Yogyakarta, , 2006
f. Presenter on Iraq Conflict Seminar in Yogyakarta, 2007
g. Writer for Academic Writing for RPP (Draft for Government Regulation) Sabang, Gadjah Mada University, 2007
h. Consultant and Writer for Document about Kampong Papua Resilience, Partnership Program for Papua, 2008
i. International Conference of Social and Humanitarian (ICOSH), on University Kebangsaan Malaysia, March, 13-15 2007, Former Rebellion Movement in Power: A Challenge of Performance Proofing
j. Advanced Seminar: Focus on The Philippines, August, 4-9, SEASREP, UPI, Diliman, Manila, Philippines, 2008

Publication in News Paper
1. Unbalanced Security Council: Analysis from Islamic World Perspective, Republika, 2005
2. Ten Agenda from Israel to occupy Palestine, Republika, 2005
3. Separatism of GAM (Aceh Liberation Movement) from Islamic Perspective, Republika, 2005
4. Framing to Iran Nuclear: Analysis from Islamic Perspective, September 2005
5. Bali Boom II and Free Rider, Republika, 2005
6. The Scenario of Israel to Iran Nuclear, Republika, 2006
7. Iran Nuclear and Jews Propaganda, Republika, 2006
8. Political Trap to HAMAS, Republika, 2006
9. To Explore Poverty in Islamic World, Republika, 2006
10. To Discuss Coup d'état theory, Republika, 2006
11. Lipsticks Democracy, Republika, 2006
12. Metamorphosis of HAMAS, Republika, 2006
13. Looking for Holocaust Actor, Republika, 2006
14. The sign of Israel Decline, Republika 2006
15. Media and Iran War, Koran Tempo, 2006
16. Bush and Political Turbulent, Koran Tempo, 2006
17. Regime Trials and Errors, Koran Tempo, 2006
18. Who are Citizens, Seputar Indonesia, 2006
19. The Construction of Poso Conflict, Republika, 2006
20. Iraq and ABC Theory, Republika, 2007
21. Poso Conflict and Public Trust, Republika, 2007
22. Poso and Fogging DPO (Most Wanted People), Republika, 2007
23. The High Cost of Democracy, Republika, 2007
24. Democracy in Naivete, Republika, 2007
25. To Warn Politicization of Negotiation, Republika, 2007
26. The Tradition of Political Party, Seputar Indonesia, 2007
27. “Trias Politica” without the Publics, Seputar Indonesia , 2007
28. Who are sick: Nation or Regime, Seputar Indonesia, 2007
29. The Innocent Regime, Seputar Indonesia, 2007
30. Iran and the Martyr of Nuclear Democratization, Seputar Indonesia, 2007
31. The bankrupt of Military system, Seputar Indonesia, 2007
32. To understand arrestment of terrorist, Seputar Indonesia, 2007
33. To understand Separatism, Republika, 2007
34. Understanding political “silaturahmi”, Republika, 2007
35. Who does get benefits from Democracy, Republika, 2007
36. Crisis and Sect, Koran Tempo, 2007
37. Marginalization to Poor People, Republika, 2007
38. Disaster after Disaster, Seputar Indonesia, 2007
39. Understanding Monks Action, Seputar Indonesia, 2007
40. Fasting Democracy, Republika, 2007
41. Transformation for Political Party, Koran Tempo, 2008
42. To Politicize National Coalition, Koran Tempo, 2008
43. To Politicize Nobel Award, Koran Tempo, 2008
44. The Politic of “Jenang” (Pie) and “Jeneng” (Honor), Republika, 2008
45. Re-reading Peace Process in Mindanao, Republika, 2008

Publication in Journal
1. Lesson from Iran: Revolution to Democracy, Strategy Journal, Fisipol UMY, 2003
2. Estimating conflict resolution in Islamic World, International Relation Journal, Fisipol UMY, 2005
3. Relation poverty and conflict in South Asia, International Relation Journal, Fisipol UMY, 2006
4. Former Rebellion Movement in Power: A Challenge of Performance Proofing, International Relation Journal, Fisipol UMY, 2007

Leadership Experience
1. Secretary of International Relation Department, Faculty of Social and Political Science, University of Muhammadiyah Yogyakarta, 1999-2000
2. Secretary of Public Service Board, University of Muhammadiyah Yogyakarta, 1999-2000
3. Head of Public Services Board (LPM), University of Muhammadiyah Yogyakarta, 2000-2002
4. Head of Consortium for Public Services Board (LPM) in Yogyakarta, 2002-2003
5. Vice Dean for Academic Affairs, Faculty of Social and Political Science, University of Muhammadiyah Yogyakarta, 2003-2005
6. Director for Grant Competition Program(PHK-A-3) in International Relation Department, Faculty of Social and Political Science, University of Muhammadiyah University, Higher Education Program, Indonesia Ministerial for Education, 2006-2007