Politisasi Koalisi Kebangsaan
Surwandono
Dosen Fisipol UMY dan Peneliti Center for Indonesian Reform (CIR)
Koalisi antara Golkar dan PDIP yang mengusung issue kebangsaan semakin bergulir dan menunjukan penguatan bentuk koalisi secara sistematis. Selama ini banyak kalangan menyebut koalisi PDIP-Golkar sebagai koalisi jangka pendek, mudah retak, tidak kohesif seperti koalisi air dan minyak, sampai manuver politik untuk agenda 2009. Sedemikian rupa para petinggi PDIP dan Golkar menyatakan bahwa koalisi ini sebagai bagian tanggung jawab social PDIP-Golkar untuk menyelamatkan karakter kebangsaan yang diyakini para petinggi partai ini mulai tergerus zaman.
Ada kecenderungan yang unik dari diskursus koalisi PDIP-Golkar, pertama, Fenomena koalisi ada kecenderungan terbangun pasca pelaksanaan Pemilu guna menguatkan posisi politiknya dalam membangun pemerintahan. Kedua, koalisi cenderung dibangun oleh struktur politik dan sejarah partai politik yang relatif sebangun. Sebagaimana diketahui, PDIP dan Golkar dalam konteks platform politik memang sebangun, namun dalam sejarah politik Indonesia, PDIP dan Golkar merupakan opponent satu sama lain. Pada titik inilah banyak pengamat meragukan kelanggengan koalisi PDIP-Golkar.
Politisasi Nations
Ide besar yang dikembangkan dalam koalisi antara PDIP dan Golkar cenderung mengambil setting kebangsaan (nations). Diskursus kebangsaan atau nationalitas cenderung akan menemukan momentum tatkala terdapat intervensi dan penetrasi asing yang sangat jelas, sebagaimana sejarah telah membuktikan bahwa perasaan senasib-sepenanggungan akibat tekanan kekuatan asing , menghasilkan nasionalisme Indonesia. Sukarno juga menggunakan roda nasionalisme untuk melakukan politik nasionalisasi perusahaan asing (Belanda) yang distigma sebagai kekuatan asing, penjajah dan eksploatatif.
Pertanyaannya apakah status kebangsaan Indonesia sedang terancam ? Merujuk statemen Taufiq Kiemas dalam Silaturahmi PDIP dan Golkar, bahwa silaturahmi kebangsaan PDIP-Golkar dalam rangka menjaga stabilitas nasional khususnya stabilitas politik Artinya ketidakstabilan kebangsaan bangsa Indonesia lebih disebabkan oleh persoalan politik internal dan bukan karena diakibatkan penetrasi kekuatan asing. Ketidakmampuan regim SBY dalam mengelola politik diyakini sebagai factor yang paling signifikan bagi ketidakmantapan stabilitas nasional. Relevankah issue kebangsaan ?
Menilik dari masalah kapasitas pengelolaan negara, issue kebangsaan atau nations terasa sumir dan cenderung rentan terpolitisasi. Issue kebangsaan yang diusung Golkar dan PDIP justru mendapatkan perlawanan yang cukup sengit dari partai politik lainnya. Sutrisno Bachir menyatakan dengan lugas bahwa Golkar dan PDIP tidak bisa mengklaim sebagai partai yang paling nasionalis dan paling ber-NKRI. Dis-kursus ini menjadi tidak produktif karena cenderung menghasilkan claim of truth dan bukan didasarkan kepada objektivitas. Alih-alih memperkuat kekuatan moral dalam membangun kebangsaan Indonesia, jika tidak dimanage dengan baik justru akan menjadi buah simalakama bagi karakter kebangsaan Indonesia, karena saling bertengkar dengan tidak memiliki terminal akhir yang jelas.
Memang harus diakui, bahwa politik bangsa Indonesia sangat ditentukan actor siapakah yang mampu memenangkan dis-kursus politisasi, dialah yang akan mendapatkan panggung politik. Namun menjadi mubazir energi politik nasional jika harus bermain dengan politisasi kebangsaan, di tengah persoalan kebangsaan yang sedang diambang kebangkrutan karena perilaku para actor politik sendiri. Jangan salahkan fihak asing, jika kemudian bangsa ini akhirnya harus meminta bantuan injeksi politik dan ekonomi asing untuk mengurangi demam politik yang tak terkendali.
Saatnya Notions
Kondisi bangsa Indonesia yang belum membaik pasca krisis ekonomi dalam 10 tahun terakhir, ditambah dengan semakin merosotnya nilai kepercayaan asing terhadap kapasitas bangsa ini, yang ditandai dengan larangan terbang bagi pesawat Indonesia ke beberapa Negara Eropa, Arab Saudi dan Korea Selatan, serta semakin rendahnya daya saing Indonesia di mata public internasional menuntut solusi yang bersifat notions. Notions merupakan seperangkat ide-ide cerdas yang mampu melintas batas untuk mengentaskan masalah secara komprehensif. Ide yang mampu mengangkat bangsa yang terpuruk menjadi bangsa yang progresif, ide yang mampu memobilisasi semangat untuk saling mencaci maki, mencari-cari kesalahan orang lain menjadi semangat untuk bersaudara, ide yang mampu membawa bangsa yang inferior menjadi bangsa yang superior.
Selayaknya para actor politik bangsa ini belajar dari notions, semangat dan ide bushido di Jepang sehingga mampu menghantarkan bangsa Jepang dari bangsa yang terpuruk, inferior menjadi bangsa yang superior. Selayaknya pula bangsa ini belajar dari notions “arbeit” Jerman yang mampu menghantarkan bangsa Jerman yang terpuruk menjadi bangsa yan terhormat. Koalisi politik seharusnya lebih mengedepankan notions untuk memperkuat posisi nations daripada mengedepankan nations tapi malah memenjarakan notions.
Memperbincangkan notions, akan membuat bangsa akan menjadi cerdas. Semangat pengembangan cogito ergo sum dari filsafat Yunani menyiratkan bahwa keberadaan suatu kaum sebenarnya lebih ditentukan keberadaan untuk berfikir kontemplatif dari pada berfikir praktis. Berfikir kontemplatif akan menghasilkan sebuah notions yang paling substantif untuk dioperasionalkan menjadi sebuah nilai kebangsaan baru. Sedangkan berfikir praktis hanya akan menghasilkan notions yang parsial dan akan mereduksi nasionalisme itu sendiri.
Berfikir kontemplatif merupakan investasi bangsa yang sangat bermanfaat bagi penataan bangsa yang lebih baik. Di tengah struktur berfikir proses bernasionalisme bangsa Indonesia yang lebih mengedepankan nasionalisme praktis dibandingkan dengan nasionalisme yang substantif. Nasionalisme praktis hanya akan menghasilkan ketakutan dan bayang-bayang fatamorgana, sehingga bangsa ini senantiasa terjebak dalam konflik sesama anak bangsa. Sedangkan Nasionalisme substantif akan menghasilkan peta yang jelas, siapa pahlawan, siapa pengkhianat, siapa kawan, siapa musuh. Tidak ada fatamorgana dan politisasi, semua menjadi terang benderang. Sehingga proses penyelesaian masalah langsung ke sumber masalah, dan bukan kepada asesorisnya saja. Saatnya ber-nations dengan Notions.