Surwandono's Blog

Masturbassikan Demokrasi Kita

by Surwandono UMY | 22.17 in |

MASTURBASIKAH DEMOKRASI KITA?

Surwandono

Kandidat Doktor Ilmu Politik UGM dan Dosen Fisipol UMY

10 tahun sudah bangsa Indonesia telah Melamar Demokrasi, sebagaimana judul buku yang ditulis oleh Anas Urbaningrum tatkala menjadi anggota KPU. Demokrasi sedemikian rupa sangat menarik dan mempesona bagi bangsa Indonesia, sehingga bangsa Indonesia kemudian memutuskan untuk melamar nalar demokrasi sebagai nalar berbangsa dan bernegara.

Tidak hanya itu, Anis Matta, Sekjen PKS, sebuah partai politik yang senantiasa diidentikkan dengan tradisi dakwah salafi, sebuah tradisi yang seringkali tidak ramah dengan konsep demokrasi, justru mencoba memberikan cara membaca demokrasi secara baru. Dalam bukunya, Menikmati Demokrasi: Strategi Dakwah Meraih Kemenangan, seakan memberikan legalisasi bahwa demokrasi menjadi sebuah jalan penghubung (wasilah) yang strategis bagi perluasan dakwah.

Namun, setelah 10 tahun melamar dan menikmati nalar demokrasi, demokrasi tampaknya belum mampu memberikan hasil reproduksi yang produktif. Publik Indonesia sedemikian getir melihat tingkah polah partai politik yang difahami sebagai penyangga demokrasi, justru menunjukkan kesadaran demokrasi yang rendah. Lembaga parlemen, justru dinilai oleh public sebagai lembaga yang semakin berjarak dengan artikulasi kepentingan public. Melenggangnya kebebasan di Indonesia, sebagai implikasi dari pemberlakuan demokratisasi, justru tidak berkorelasi dengan semakin dewasanya kesadaran berdemokrasi. Korupsi justru membumbung tinggi, akuntabilitas penyelenggaraan pemerintahan ternyata sangat jauh dari benchmark good governance sebagai yang telah dilaporkan oleh Global Integrity Indeks. Kesejahteraan politik, bangsa Indonesia ternyata berbanding terbalik dengan semakin meningkatkannya iklim kebebasan di Indonesia.

Masturbasi Politik

Masturbasi merupakan sebuah konsep yang terkait dengan proses pemuasan kebutuhan biologis seseorang tanpa melalui proses “coitus”, upaya mendapatkan kenikmatan seksual melalui penciptaan kepuasan sensasial. Namun bagi banyak kalangan, masturbasi sering difahami sebagai sebuah kesia-siaan, karena menguras energi yang sangat besar namun tidak menghasilkan buah “reproduksi”, kecuali hanya sebuah halusinasi kenikmatan.

Bagaimana dengan demokrasi kita? Demokrasi di Indonesia, dalam kurun waktu 10 tahun terakhir ini tampaknya memiliki kemiripan dengan suasana masturbasi. Demokrasi di Indonesia memang telah berhasilkan menghasilkan “sensasi” kebebasan di seantero negeri. Semua orang bisa berteriak untuk mengartikulasikan kepentingan dan pendapatnya, tidak peduli apakah pendapat dan kepentingan tersebut produktif atau tidak bagi bangsa. Demontrasi seakan telah menjadi berita sehari-hari, tidak hanya mahasiswa yang melakukan demontrasi, buruh, pedagang, petani, bahkan anak-anak sekolah dasar sekalipun juga tak kalah artikulatifnya dalam menyampaikan aspirasi dan pendapat.

Publik seakan sudah merasa puas, tatkala mampu menyuarakan aspirasinya secara lantang. Publik seakan sudah merasakan kenikmatan yang tiada tara tatkala mampu memaksa lembaga politik, perusahaan, instansi pendidikan, pemerintah, memenuhi tuntutan yang diajukan. Demontrasi seakan telah menjadi alat politik baru, bahkan penggunaan kekerasan dan menganggu kepentingan public lainnya seakan bukan menjadi masalah krusial, agar tuntutan dipenuhi. Banyaknya kasus pemblokiran jalan, baik dengan menebang pohon, menutup akses jalan teramat sering ditemukan oleh public untuk mengaktualkan kekesalannya terhadap system demokrasi. Inilah bentuk sensasi kebebasan dari makhluk yang bernama demokrasi.

Bagaimana dengan tingkah polah elit demokrasi kita? Para elit demokrasi kita seakan sudah merasa puas telah terpilih melalui mekanisme procedural recruitment politik yang demokratis. Sehingga berbondong-bondong membuat partai baru jika tersingkir dalam peredaran partai lamanya Sehingga tidak jarang, elit politik seringkali mempertontonkan proses membangun politik demokrasi melalui “sensasi” dan dibandingkan dengan “prestasi’. Elit politik lebih suka bekerja secara akrobatik dibandingkan dengan berkarya secara sistematis. Semakin elit politik mampu membuat “sensasi”, semakin elit politik tersebut menyakini telah menjadi actor politik yang paling demokratis.

Hasil politik demokrasi yang mengedepankan sensasi adalah lemahnya adaptabilitas produk legislasi dalam menghadapi kontraksi sistem politik, baik yang berasal dari tekanan domestik apalagi internasional. Sebagaimana sekarang ini bisa disaksikan, demokrasi yang sebelumnya diharapkan akan mampu memperkokoh system ekonomi dan kemandirian bangsa, ternyata tak mampu berbuat banyak. Harga barang kebutuhan pokok membumbung tinggi tak terkendali, lembaga parlemen dan eksekutif seperti “mati kutu”. diam seribu bahasa. Apakah kesemuanya ini menunjukan bahwa sebenarnya bangsa Indonesia ketika melamar dan menikmati demokrasi, hanyalah dalam ruangan “masturbasi”, mengedepankan sensasi daripada “produksi”. Na’udzubillah.

Menikahi Demokrasi: Mengakhiri Sensasi

Pertanyaan yang layak untuk diajukan adalah “mengapa hasil demokrasi di Indonesia hanya sebuah sensasi “kebebasan” dan bukan prestasi “kesejahteraan dan kedewasaan”. Di usia yang ke 63 tahun Indonesia, para pemimpin republik dan masyarakat Indonesia harus mulai berfikir dengan kritis dan jernih. Sensasi memang telah memberikan kenikmatan namun yang harus disadari bersama bahwa bangsa ini tidak sekedar membutuhkan sensasi belaka.

Indonesia telah memiliki modal sosial yang sangat berharga untuk menyongsong masa depan yang lebih baik. Umur yang semakin matang, tempaan ujian yang datang bertubi-tubi, baik dalam bentuk ujian kontraksi politik, ekonomi dan aneka bencana alam. Indonesia juga sedang mengalami transformasi ke arah tata good governance, membanjirnya jumlah partai politik yang kini telah mencapai 38 partai politik.

Modal sosial tersebut harus dikelola secara professional, atau dalam bahasa lugasnya Indonesia harus segera memutuskan untuk “menikahi” demokrasi luar dan dalam. Tidak cukup kita hanya melamar dan menikmati demokrasi semata, sebab jika kita hanya berhenti di arays ini maka yang terjadi hanyalah repetisi sensasi dan aneka masturbasi semata. Dengan melakukan pernikahan terhadap demokrasi, bangsa ini diharapkan akan segera mendapatkan rahmah yang beraneka ragam, dari kedewasaan bersikap, kejujuran, keterbukaan, ketertiban, sampai pada akhirnya berkorelasi dengan derajat kesejahteraan.

Dengan menikahi demokrasi, maka sesungguhnya bangsa ini akan memiliki tanggung jawab (mas’uliyyah) terhadap internalisasi nilai demokrasi secara luas, dan substantif. Sebagaimana orang yang melakukan pernikahan, biasanya akan segera diikuti dengan persiapan-persiapan yang serius untuk siap menerima amanah jika sewaktu-waktu harus mengelola buah pernikahan itu sendiri. Bangsa ini tentunya tidak ingin, bahwa buah dari demokrasi adalah ketidakteraturan dan kemiskinan. Bangsa ini tentu berharap buah dari pernikahan dengan demokrasi adalah kematangan, kejujuran, kebersamaan dan kesejahteraan. Semoga.

0 komentar:

Profile

Curicullum Vitae

1. Name: Surwandono,S.Sos, M.Si
2. Place and Birth: Bantul, May 2 , 1971
3. Sex: Man
4. Address: Kadirojo RT 09 Bantul Yogyakarta Indonesia 55713
5. Mobile Phone: +628562880312
6. e-mail: surwan04@yahoo.com. au
7. Department: International Relation Department
8. University: University of Muhammadiyah Yogyakarta
9. Education: Under-graduate (Airlangga University) Post-Graduate (Gadjah Mada University)and Ph. D candidate in Political Science at Gadjah Mada University

Research
a.The dynamics of Strategic Opportunity and Legislation on Final Peace Agreement 1996 (2008
b. Conflict and Negotiation in Mindanano (2007)
c. Muhammadiyah and The New Islamic Organization (2006)
d. Muhammadiyah and Power 2005
e. Relation between Political Geography and Conflict in Southeast Asia, 2004
f. Conflict and Poverty in South Asia, 2003
g. Conflict Resolution in Islamic Perspective, 2002
h. Relation between Political Geography and Conflict in Middle East, 2001
i. The Political Thought of Ibnu Taimiyyah and Ghazali About Islamic State, 1999
j. Democratization in Islamic World: The Studies of Democratization in Pakistan and Iran, 1999
k. Women Leadership in Islamic World: The Study of Women Leadership in Pakistan, 1998

Book
Islamic Political Thought, Yogyakarta, LPPI UMY, 2000
International Conference of Social and Humanitarian (ICOSH), on Universitas Kebangsaan Malaysia, March, 13-15 2007, Former Rebellion Movement in Power: A Challenge of Performance Proofing

Local, National and International Presentation, Trainer and Consultant
a. Trainer for Civic Education in Medan, 2003
b. Trainer for Civic Education in Palembang, 2003
c. Trainer for Civic Education in Yogyakarta, 2003
d. Trainer for Student Leadership in Yogyakarta, 2006
e. Presenter on Iran Nuclear Seminar in Yogyakarta, , 2006
f. Presenter on Iraq Conflict Seminar in Yogyakarta, 2007
g. Writer for Academic Writing for RPP (Draft for Government Regulation) Sabang, Gadjah Mada University, 2007
h. Consultant and Writer for Document about Kampong Papua Resilience, Partnership Program for Papua, 2008
i. International Conference of Social and Humanitarian (ICOSH), on University Kebangsaan Malaysia, March, 13-15 2007, Former Rebellion Movement in Power: A Challenge of Performance Proofing
j. Advanced Seminar: Focus on The Philippines, August, 4-9, SEASREP, UPI, Diliman, Manila, Philippines, 2008

Publication in News Paper
1. Unbalanced Security Council: Analysis from Islamic World Perspective, Republika, 2005
2. Ten Agenda from Israel to occupy Palestine, Republika, 2005
3. Separatism of GAM (Aceh Liberation Movement) from Islamic Perspective, Republika, 2005
4. Framing to Iran Nuclear: Analysis from Islamic Perspective, September 2005
5. Bali Boom II and Free Rider, Republika, 2005
6. The Scenario of Israel to Iran Nuclear, Republika, 2006
7. Iran Nuclear and Jews Propaganda, Republika, 2006
8. Political Trap to HAMAS, Republika, 2006
9. To Explore Poverty in Islamic World, Republika, 2006
10. To Discuss Coup d'état theory, Republika, 2006
11. Lipsticks Democracy, Republika, 2006
12. Metamorphosis of HAMAS, Republika, 2006
13. Looking for Holocaust Actor, Republika, 2006
14. The sign of Israel Decline, Republika 2006
15. Media and Iran War, Koran Tempo, 2006
16. Bush and Political Turbulent, Koran Tempo, 2006
17. Regime Trials and Errors, Koran Tempo, 2006
18. Who are Citizens, Seputar Indonesia, 2006
19. The Construction of Poso Conflict, Republika, 2006
20. Iraq and ABC Theory, Republika, 2007
21. Poso Conflict and Public Trust, Republika, 2007
22. Poso and Fogging DPO (Most Wanted People), Republika, 2007
23. The High Cost of Democracy, Republika, 2007
24. Democracy in Naivete, Republika, 2007
25. To Warn Politicization of Negotiation, Republika, 2007
26. The Tradition of Political Party, Seputar Indonesia, 2007
27. “Trias Politica” without the Publics, Seputar Indonesia , 2007
28. Who are sick: Nation or Regime, Seputar Indonesia, 2007
29. The Innocent Regime, Seputar Indonesia, 2007
30. Iran and the Martyr of Nuclear Democratization, Seputar Indonesia, 2007
31. The bankrupt of Military system, Seputar Indonesia, 2007
32. To understand arrestment of terrorist, Seputar Indonesia, 2007
33. To understand Separatism, Republika, 2007
34. Understanding political “silaturahmi”, Republika, 2007
35. Who does get benefits from Democracy, Republika, 2007
36. Crisis and Sect, Koran Tempo, 2007
37. Marginalization to Poor People, Republika, 2007
38. Disaster after Disaster, Seputar Indonesia, 2007
39. Understanding Monks Action, Seputar Indonesia, 2007
40. Fasting Democracy, Republika, 2007
41. Transformation for Political Party, Koran Tempo, 2008
42. To Politicize National Coalition, Koran Tempo, 2008
43. To Politicize Nobel Award, Koran Tempo, 2008
44. The Politic of “Jenang” (Pie) and “Jeneng” (Honor), Republika, 2008
45. Re-reading Peace Process in Mindanao, Republika, 2008

Publication in Journal
1. Lesson from Iran: Revolution to Democracy, Strategy Journal, Fisipol UMY, 2003
2. Estimating conflict resolution in Islamic World, International Relation Journal, Fisipol UMY, 2005
3. Relation poverty and conflict in South Asia, International Relation Journal, Fisipol UMY, 2006
4. Former Rebellion Movement in Power: A Challenge of Performance Proofing, International Relation Journal, Fisipol UMY, 2007

Leadership Experience
1. Secretary of International Relation Department, Faculty of Social and Political Science, University of Muhammadiyah Yogyakarta, 1999-2000
2. Secretary of Public Service Board, University of Muhammadiyah Yogyakarta, 1999-2000
3. Head of Public Services Board (LPM), University of Muhammadiyah Yogyakarta, 2000-2002
4. Head of Consortium for Public Services Board (LPM) in Yogyakarta, 2002-2003
5. Vice Dean for Academic Affairs, Faculty of Social and Political Science, University of Muhammadiyah Yogyakarta, 2003-2005
6. Director for Grant Competition Program(PHK-A-3) in International Relation Department, Faculty of Social and Political Science, University of Muhammadiyah University, Higher Education Program, Indonesia Ministerial for Education, 2006-2007