Surwandono's Blog

Pemilu untuk Siapa

by Surwandono UMY | 22.26 in |

MENGGUGAT NALAR PEMILU

Surwandono

(Dosen Fisipol UMY, Kandidat Doktor Ilmu Politik UGM)

Judul ini serasa sangat satire, manakala parlemen, partai politik baru dan DPD sedang bersibuk-sibuk ria untuk melakukan proses Pemilu 2009, yang dipenuhi dengan pergulatan pemikiran, debat antar partai politik, kandidat, bahkan sampai geser menggeser kursi. Dialektika seputar pemilupun banyak digelar, dari merekrut artis, aktivis ekstra parlementer untuk meningkatkan perolehan suara, sampai banyaknya mantan pejabat militer yang turun gunung untuk maju dalam proses politik.

Apakah makna dialektika tersebut bagi public ? Dari perspektif elit parpol, pemerintah, KPU senantiasa menaburkan aroma manis bahwa dialektika tersebut sebagai bentuk penghormatan terhadap suara rakyat. Suara rakyat tidak boleh hilang ataupun dihilangkan, representasi rakyat harus senantiasa terjaga dalam tarikan nafas dan langkah politik di Parlemen. Para elit Parpol, pemerintah dan KPU dalam memperjuangkan aturan main dn proses Pemilu, seakan manunggal dengan kehendak dan aspirasi rakyat. Apakah memang benar demikian ?

Adalah seorang David Easton, seorang ilmuwan politik yang sangat terkenal dalam mengkonstruksi sistem politik demokratis, pemikirannya telah menjadi sarapan pagi bagi akademisi, maupun politisi yang bergiat dengan mahkluk yang bernama politik. Dalam pandangan Easton, sistem politik merupakan interaksi antar 5 komponen, yakni input, konversi, output, feed back dan lingkungan, sebuah diagram alur sistem politik yang sistematis. Easton sendiri senantiasa memberikan peringatan dini terhadap komponen konversi, sebuah komponen unik dan spesifik yang di dalamnya berlaku hukum black box yang selama ini dijalankan oleh system politik. Proses konversi seringkali tidak ditentukan oleh tarik menarik antara tuntutan dan dukungan dari masyarakat, namun lebih ditentukan oleh tarikan siapa yang akan membuat aturan, dan siapa yang akan terkena aturan tersebut. Ada kecenderungan besar, bahwa ouput yang dibuat oleh sistem politik, akan menguntungkan yang membuat aturan tersebut, dan merugikan terhadap kompetitor politiknya. Merujuk apa yang disiratkan oleh Easton di atas, public pantas dan wajar menaruh kecurigaan terhadap beragam pergumulan politik, karena jangan-jangan kesemuanya yang akhirnya dapat untung hanyalah elit.

Pertanyaan yang kemudian menukik tajam, sesungguhnya untuk siapakah Pemilu itu. Untuk rakyatkah seperti yang sering didengungkan oleh para elit politik, ataukah hanya untuk proses produksi, melanggengkan bahkan memberhalakan kekuasaan elit. Atau jangan-jangan pemilu merupakan sebuah “ritual politik”, bahkan hanya sebagai asesoris makhluk politik yang bernama demokrasi.

Pemilu tak Bermakna

Mengapa nalar pemilu semakin tidak bermakna ? Pertama, terdapat kenyataan bahwa angka-angka golput dalam beberapa Pilkada menunjukan angka meningkat, hal ini sangat tercermin dalam Pilkada di DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur. Tingginya angka golput bisa dimaknai sebagai bentuk ketidakpercayaan publik terhadap ritual pemilu, yang dianggap meaningless, dan tak bermakna.

Dr. Pratikno, seorang pakar politik UGM, mengatakan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap partai politik semakin rendah dibandingkan dengan lembaga pemerintah. Data menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan masyarakat terhadap partai politik mengalami penurunan dari 8% di Pemilu tahun 2004 menjadi 5,8% di tahun 2007. Pemilu 2004, yang dianggap sebagai pemilu yang demokratis seperti dalam pemilu 1955, ternyata juga tidak mampu menghasilkan kualitas elit di lembaga trias-politika yang kredibel. Masyarakat semakin miskin, tak berdaya, sedangkan para elit semakin makmur dan menikmati kemakmuran tersebut.

Kedua, terdapat suatu kenyataan pahit bahwa yang sering ditunggu masyarakat kecil dalam konteks pemilu di tingkat paling bawah sampai nasional adalah distribusi “rejeki money politik”, pada saat pemilu daripada proses politik yang prospektif. Public seakan bisa “memeras” para calon elit, sebagai balasan atas pemerasan para elit ketika masih berkuasa. Kondisi ini seakan telah menjadi “tradisi” buruk perekrutan elit, yang kemudian berimplikasi terhadap langgengnya budaya korupsi dalam jabatan publik. Adalah tidak berlebihan jika seorang Hasyim Muzadi justru menyerukan penghapusan pilkada langsung, sebagai bentuk kritik kepada kualitas Pilkada yang memprihatinkan.

Ketiga, sempitnya proses sirkulasi elit dalam pemilu. Hal ini ditandai dengan sangat sulitnya “orang miskin” atau “partai gurem” meskipun mengembangkan intra party democracy untuk melakukan mobilitas vertical politik. Hampir bisa dipastikan bahwa para anggota parlemen adalah sebagian besar “muka lama”, dan partai pemenang pemilu-pun juga partai lama, sebagai implikasi dari proses pembuatan UU Pemilu yang sangat konservatif dan oligharkis.

Keempat, pemilu identik dengan suasana crowded dan rentan dengan aktivitas kekerasan psikis maupun fisik. Dari bertaburan politik fitnah, hujat menghujat, sampai kekerasan fisik antar massa dari partai politik sampai bertaburannya atribut partai politik dan elit yang tidak elok dan hanya membuat pelangi politik Indonesia menjadi pesta yang kotor, tidak indah, bahkan terkadang menyesakkan dada.

Mengubah Nalar

Nalar yang selama ini berkembang seputar pemilu adalah nalar yang terpusat kepada proses perekrutan semata, yang seringkali cenderung berfihak kepada elit politik yang membuat aturan sebagaimana yang disinyalir oleh David Easton. Setidaknya 3 nalar perubahan yang harus diintrodusir ulang untuk memaknai UU Pemilu 2009 yang sudah terlanjur lahir sebelum dibuahi nalar yang bermartabat, pertama, Pemilu sebagai bentuk pendidikan politik yang egaliter, bagi publik maupun elit. Pemilu sebagai proses pendidikan politik, harus memberikan pendidikan yang bermoral, rasional dan berdaya guna. Nalar ini sangat penting di tengah arus pendidikan politik selama pemilu sebagai pendidikan politik yang penuh dengan intrik, irasional, opurtunistik.

Kedua, pemilu juga sebagai proses pelembagaan politik. Pemilu hendaknya mampu membangun tingkat kedewasaan politik dari elit dan public menuju pelembagaan politik, dan bukan melalui politik jalanan. Nalar ini sangat penting di tengah kondisi politik Indonesia yang semakin tidak terlembaga. Publik lebih memilih memperjuangkan aspirasinya melalui gerakan parlemen jalanan, karena dianggap lebih efektif dan artikulatif.

Ketiga, pemilu sebagai bentuk produktivitas nalar demokrasi. Sebagaimana disuratkan oleh Robert Dahl, bahwa pelaksanaan Pemilu yang sistematis, dan fairness akan mampu menghasilkan mesin politik yang sehat, sehingga diharapkan akan memberikan kontribusi positif bagi terciptanya kesejahteraan masyarakat.

0 komentar:

Profile

Curicullum Vitae

1. Name: Surwandono,S.Sos, M.Si
2. Place and Birth: Bantul, May 2 , 1971
3. Sex: Man
4. Address: Kadirojo RT 09 Bantul Yogyakarta Indonesia 55713
5. Mobile Phone: +628562880312
6. e-mail: surwan04@yahoo.com. au
7. Department: International Relation Department
8. University: University of Muhammadiyah Yogyakarta
9. Education: Under-graduate (Airlangga University) Post-Graduate (Gadjah Mada University)and Ph. D candidate in Political Science at Gadjah Mada University

Research
a.The dynamics of Strategic Opportunity and Legislation on Final Peace Agreement 1996 (2008
b. Conflict and Negotiation in Mindanano (2007)
c. Muhammadiyah and The New Islamic Organization (2006)
d. Muhammadiyah and Power 2005
e. Relation between Political Geography and Conflict in Southeast Asia, 2004
f. Conflict and Poverty in South Asia, 2003
g. Conflict Resolution in Islamic Perspective, 2002
h. Relation between Political Geography and Conflict in Middle East, 2001
i. The Political Thought of Ibnu Taimiyyah and Ghazali About Islamic State, 1999
j. Democratization in Islamic World: The Studies of Democratization in Pakistan and Iran, 1999
k. Women Leadership in Islamic World: The Study of Women Leadership in Pakistan, 1998

Book
Islamic Political Thought, Yogyakarta, LPPI UMY, 2000
International Conference of Social and Humanitarian (ICOSH), on Universitas Kebangsaan Malaysia, March, 13-15 2007, Former Rebellion Movement in Power: A Challenge of Performance Proofing

Local, National and International Presentation, Trainer and Consultant
a. Trainer for Civic Education in Medan, 2003
b. Trainer for Civic Education in Palembang, 2003
c. Trainer for Civic Education in Yogyakarta, 2003
d. Trainer for Student Leadership in Yogyakarta, 2006
e. Presenter on Iran Nuclear Seminar in Yogyakarta, , 2006
f. Presenter on Iraq Conflict Seminar in Yogyakarta, 2007
g. Writer for Academic Writing for RPP (Draft for Government Regulation) Sabang, Gadjah Mada University, 2007
h. Consultant and Writer for Document about Kampong Papua Resilience, Partnership Program for Papua, 2008
i. International Conference of Social and Humanitarian (ICOSH), on University Kebangsaan Malaysia, March, 13-15 2007, Former Rebellion Movement in Power: A Challenge of Performance Proofing
j. Advanced Seminar: Focus on The Philippines, August, 4-9, SEASREP, UPI, Diliman, Manila, Philippines, 2008

Publication in News Paper
1. Unbalanced Security Council: Analysis from Islamic World Perspective, Republika, 2005
2. Ten Agenda from Israel to occupy Palestine, Republika, 2005
3. Separatism of GAM (Aceh Liberation Movement) from Islamic Perspective, Republika, 2005
4. Framing to Iran Nuclear: Analysis from Islamic Perspective, September 2005
5. Bali Boom II and Free Rider, Republika, 2005
6. The Scenario of Israel to Iran Nuclear, Republika, 2006
7. Iran Nuclear and Jews Propaganda, Republika, 2006
8. Political Trap to HAMAS, Republika, 2006
9. To Explore Poverty in Islamic World, Republika, 2006
10. To Discuss Coup d'état theory, Republika, 2006
11. Lipsticks Democracy, Republika, 2006
12. Metamorphosis of HAMAS, Republika, 2006
13. Looking for Holocaust Actor, Republika, 2006
14. The sign of Israel Decline, Republika 2006
15. Media and Iran War, Koran Tempo, 2006
16. Bush and Political Turbulent, Koran Tempo, 2006
17. Regime Trials and Errors, Koran Tempo, 2006
18. Who are Citizens, Seputar Indonesia, 2006
19. The Construction of Poso Conflict, Republika, 2006
20. Iraq and ABC Theory, Republika, 2007
21. Poso Conflict and Public Trust, Republika, 2007
22. Poso and Fogging DPO (Most Wanted People), Republika, 2007
23. The High Cost of Democracy, Republika, 2007
24. Democracy in Naivete, Republika, 2007
25. To Warn Politicization of Negotiation, Republika, 2007
26. The Tradition of Political Party, Seputar Indonesia, 2007
27. “Trias Politica” without the Publics, Seputar Indonesia , 2007
28. Who are sick: Nation or Regime, Seputar Indonesia, 2007
29. The Innocent Regime, Seputar Indonesia, 2007
30. Iran and the Martyr of Nuclear Democratization, Seputar Indonesia, 2007
31. The bankrupt of Military system, Seputar Indonesia, 2007
32. To understand arrestment of terrorist, Seputar Indonesia, 2007
33. To understand Separatism, Republika, 2007
34. Understanding political “silaturahmi”, Republika, 2007
35. Who does get benefits from Democracy, Republika, 2007
36. Crisis and Sect, Koran Tempo, 2007
37. Marginalization to Poor People, Republika, 2007
38. Disaster after Disaster, Seputar Indonesia, 2007
39. Understanding Monks Action, Seputar Indonesia, 2007
40. Fasting Democracy, Republika, 2007
41. Transformation for Political Party, Koran Tempo, 2008
42. To Politicize National Coalition, Koran Tempo, 2008
43. To Politicize Nobel Award, Koran Tempo, 2008
44. The Politic of “Jenang” (Pie) and “Jeneng” (Honor), Republika, 2008
45. Re-reading Peace Process in Mindanao, Republika, 2008

Publication in Journal
1. Lesson from Iran: Revolution to Democracy, Strategy Journal, Fisipol UMY, 2003
2. Estimating conflict resolution in Islamic World, International Relation Journal, Fisipol UMY, 2005
3. Relation poverty and conflict in South Asia, International Relation Journal, Fisipol UMY, 2006
4. Former Rebellion Movement in Power: A Challenge of Performance Proofing, International Relation Journal, Fisipol UMY, 2007

Leadership Experience
1. Secretary of International Relation Department, Faculty of Social and Political Science, University of Muhammadiyah Yogyakarta, 1999-2000
2. Secretary of Public Service Board, University of Muhammadiyah Yogyakarta, 1999-2000
3. Head of Public Services Board (LPM), University of Muhammadiyah Yogyakarta, 2000-2002
4. Head of Consortium for Public Services Board (LPM) in Yogyakarta, 2002-2003
5. Vice Dean for Academic Affairs, Faculty of Social and Political Science, University of Muhammadiyah Yogyakarta, 2003-2005
6. Director for Grant Competition Program(PHK-A-3) in International Relation Department, Faculty of Social and Political Science, University of Muhammadiyah University, Higher Education Program, Indonesia Ministerial for Education, 2006-2007