Surwandono's Blog

Asasinasi dalam Perspektif Islam

by Surwandono UMY | 04.40 in |

ASASINASI DALAM PERSPEKTIF ISLAM
Surwandono (Dosen Fisipol UMY dan Kandidat Doktor Ilmu Politik UGM)
Cerita pilu tentang asasinasi kembali terulang di belahan dunia Islam Islam, Pakistan. Sebuah negeri yang pernah diidamkan oleh Abu A’la al-Maududi, sebagai awal kembalinya kekuatan Islam di masa modern yang akan magnitude dunia Islam bagi bangunan membangun kejayaan Islam modern. Negeri yang pertama kali dalam sejarah dunia Islam modern yang mengindentifikasikan diri sebagai Republik Islam, namun senantiasa tergurat beragam kekerasan dan pembunuhan politik, sebagaimana juga tergurat dalam sejarah politik Negara kompetitornya, yakni India.
Tulisan ini akan menganalisis fenomena asasinasi dalam perspektif sejarah Islam, sebagaimana diketahui bahwa sejarah politik Islampun juga diwarnai peristiwa Asasinasi ini. Bahkan symbol kekhalifahan pilihan zaman, Khulafaur Rasyidin, 3 khalifah utama juga menjadi korban asasinasi politik ini.
Sejarah Islam dan Asasinasi
Fenomena asasinasi sejatinya sudah berlangsung sangat lama. Cikal bakal asasinasi muncul tatkala terjadi kompetisi antara dua putra Adam, Habil dan Qabil, yang memperebutkan kekuasaan. Tradisi ini kemudian berlanjut, tatkala banyak Nabi-Nabi Alloh menjadi korban pembunuhan dari umat yang menganggap para Nabi tersebut telah menghalangi kehendak dan keserakahan manusia. Tradisi membunuh Nabi telah dilukiskan dengan sangat gamblang oleh Al-Quran untuk menggambarkan betapa bodohnya kaum Yahudi terhadap ajaran agama. Mereka meminta didatangkan nabi dari kalangan mereka, namun merekalah yang kemudian mengingkari dan membunuhnya.
Rasulullah Muhammad SAW dalam mengemban risalah Islam juga telah menjadi target asasinasi nomor wahid dalam sejarah masyarakat Quraisy dan masyarakat Yahudi di Madinah. Kehadiran Rasul Muhammad SAW difahami sebagai “biang konflik” dibandingkan dengan “biang Rahmat”, sehingga komunitas elit di Quraisy maupun Yahudi di Madinah melakukan segala tipu daya untuk membunuh Rasul. Namun berkat pertolongan Alloh, segala bentuk asasinasi dan makar tersebut gagal total, karena sesungguhnya Alloh itu sebaik-baik pembuat makar.
Yang paling monumental adalah terbunuhnya Khalifah Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abu Thalaib, tiga serangkai khalifah Rasyidah yang senantiasa menjalankan roda pemerintahan Islam dengan bersandarkan kepada ajaran Islam, Qur’an wa Sunnah, sehingga para sejarawan Islam memberikan gelar sebagai model Pemerintahan Yang Lurus (Khulafaur Rasyidin). Sebuah model pemerintahan yang mampu mengembangkan tradisi politik ilahiyah.
Pertanyaan yang kemudian mengemuka adalah mengapa jika ke tiga khalifah ini menjalankan roda pemerintahan dengan sangat baiknya dan menjadi teladan zaman, justru menjadi korban aksi asasinasi. Apakah politik asasinasi terhadap ketiganya merupakan cerminan kegagalan ketiganya dalam mengelola pemerintahan ketika itu. Demikian pertanyaan yang sering dilemparkan oleh para orientalis dalam konteks memperdebatkan status ketiga khalifah ini sebagai khalifah terbaik.
Dalam logika agama, prestasi seseorang bukanlah berarti akan memberikan jaminan bagi semua kalangan akan memberikan penghormatan dan penghargaan, justru malah sebaliknya akan memberikan perasaan iri, dengki bagi kalangan yang haus kekuasaan, munafik, dan oportunis. Terbunuhnya khalifah Umar ataupun Utsman tidak bisa dilepaskan dari opurtunisme kaum munafik di Madinah. Sedangkan terbunuhnya khalifah Ali bin Abi Thalib tidak bisa dilepaskan dari intrik politik Mu’awiyyah bin Abi Sofyan dengan memanfaatkan issue terbunuhnya Utsman untuk menggoyang kedudukan Ali bin Abi Thalib.
Keharaman Asasinasi
Dalam sejarah Islam termahsyur, tidak ada satupun ulama merekomendasikan politik asasinasi sebagai wasilah untuk mendapatkan kekuasaan. Kalaupun cara kekerasan dipakai, tapi harus dipastikan bahwa regim yang berkuasa sudah benar-benar meninggalkan tata nilai kebenaran dan keadilan, sudah meninggalkan tradisi amar ma’ruf nahi Munkar, sudah sezalim-zalimnya kekuasaan. Bahkan para sejarawan Islam tidak kemudian membenarkan langkah politik yang ditembuh regim Abbasiyyah ketika mengambil kekuasaan dari regim Muawiyyah melalui politik kekerasan, dengan memberikan gelar tambahan kepada regim Abbasiyyah dengan padanan as-saffah yang berarti berlumuran darah.
Sebut saja Ghazali yang juga memberikan sebutan kepada para pemimpin yang memperoleh kekuasaan melalui kekuatan maupun perang tidak dipanggil dengan gelar Khalifah ataupun Imam, namun disebutan Wali bis syaukah, gelar yang diberikan kepadanya adalah Sultan, Amir al-Umara, Salthan us Salathin. Sehingga tidak berlebihan kiranya jika dalam pandangan Ghazali, syarat diperbolehkannya bughat (pemberontakan) juga melalui proses yang sangat ketat dan hampir-hampir sulit untuk dipenuhi. Pemberontakan diizinkan jika saja kekuatan pemberontakan melebihi kekuatan pemerintah yang zalim, sehingga dengan melakukan tindakan kekerasan hanya sesekali telah membuat regim yang zalim sudah bisa dikalahkan. Namun jika aksi bughat malah menimbulkan malapetaka bagi masyarakat secara luas, pilihan bughat menjadi pilihan yang tidak direkomendasikan.
Apalagi menggunakan siasat politik asasinasi, melakukan pembunuhan secara berencana untuk menciptakan kekacauan. Jelas pilihan ini teramat jauh dari nalar fikir Islam, sebuah nalar fikir yang sembrono dan jauh dari nilai-nilai Islam. Pandangan Jum’ah bin Abdul Aziz dalam bukunya Fiqh Da’wah menyatakan bahwa tindakan Musa melakukan politik kekerasan untuk membela kaumnya sendiri, termasuk tindakan gegabah yang tidak menyelesaikan masalah keumatan. Terbukti, Musa harus melarikan diri dari kejaran tentara Fir’aun. Asasinasi justru akan menjerembabkan nalar politik Islam, dari nalar-nalar rahmat bagi komunitas dan alam semesta.
HAMAS sebagai contoh paling sederhana, sebagai kelompok perlawanan Islam tidak memilih mempergunakan aksi asasinasi terhadap tokoh-tokoh politik Israel dan cenderung memilih mempergunakan taktik konfrontasi secara langsung. Justru sebaliknya, Israel yang sebenarnya memiliki posisi kekuatan yang lebih besar dan terorganisir, senantiasa membidik tokoh-tokoh politik HAMAS maupun FATAH sebagai sarana untuk memangkas mobilisasi kekuatan perlawanan Palestina. Tidak kurang Ahmad Shaqaqi, pimpinan Jihad Islam, Syeikh Ahmad Yassin maupun Abdul Aziz Rantisi, pimpinan HAMAS, Yasser Arafat telah menjadi korban asasinasi politik Israel. Fakta ini menjadi bukti bahwa asasinasi telah menjadi instrument penting politik pendudukan Israel terhadap Palestina.
Kalaupun Hamas kemudian melakukan pilihan politik kekerasan, kesemuaya tidak bisa dilepaskan dari prinsip untuk mempertahankan tanah, agama dan harga diri yang direbut dari kekuatan Zionis Israel (QS. 22:39, QS.2:217, QS. 9:13). Kalaupun memilih langkah kekerasan juga harus dilakukan dengan cara-cara yang disyariatkan, yakni tidak berlebih-lebihan dan meminimalisir efek kerusakan yang ditimbulkan. Sebagaimana dinyatakan dalam al-Qur’an: Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS.2: 190).
Wallohu a’lam.

0 komentar:

Profile

Curicullum Vitae

1. Name: Surwandono,S.Sos, M.Si
2. Place and Birth: Bantul, May 2 , 1971
3. Sex: Man
4. Address: Kadirojo RT 09 Bantul Yogyakarta Indonesia 55713
5. Mobile Phone: +628562880312
6. e-mail: surwan04@yahoo.com. au
7. Department: International Relation Department
8. University: University of Muhammadiyah Yogyakarta
9. Education: Under-graduate (Airlangga University) Post-Graduate (Gadjah Mada University)and Ph. D candidate in Political Science at Gadjah Mada University

Research
a.The dynamics of Strategic Opportunity and Legislation on Final Peace Agreement 1996 (2008
b. Conflict and Negotiation in Mindanano (2007)
c. Muhammadiyah and The New Islamic Organization (2006)
d. Muhammadiyah and Power 2005
e. Relation between Political Geography and Conflict in Southeast Asia, 2004
f. Conflict and Poverty in South Asia, 2003
g. Conflict Resolution in Islamic Perspective, 2002
h. Relation between Political Geography and Conflict in Middle East, 2001
i. The Political Thought of Ibnu Taimiyyah and Ghazali About Islamic State, 1999
j. Democratization in Islamic World: The Studies of Democratization in Pakistan and Iran, 1999
k. Women Leadership in Islamic World: The Study of Women Leadership in Pakistan, 1998

Book
Islamic Political Thought, Yogyakarta, LPPI UMY, 2000
International Conference of Social and Humanitarian (ICOSH), on Universitas Kebangsaan Malaysia, March, 13-15 2007, Former Rebellion Movement in Power: A Challenge of Performance Proofing

Local, National and International Presentation, Trainer and Consultant
a. Trainer for Civic Education in Medan, 2003
b. Trainer for Civic Education in Palembang, 2003
c. Trainer for Civic Education in Yogyakarta, 2003
d. Trainer for Student Leadership in Yogyakarta, 2006
e. Presenter on Iran Nuclear Seminar in Yogyakarta, , 2006
f. Presenter on Iraq Conflict Seminar in Yogyakarta, 2007
g. Writer for Academic Writing for RPP (Draft for Government Regulation) Sabang, Gadjah Mada University, 2007
h. Consultant and Writer for Document about Kampong Papua Resilience, Partnership Program for Papua, 2008
i. International Conference of Social and Humanitarian (ICOSH), on University Kebangsaan Malaysia, March, 13-15 2007, Former Rebellion Movement in Power: A Challenge of Performance Proofing
j. Advanced Seminar: Focus on The Philippines, August, 4-9, SEASREP, UPI, Diliman, Manila, Philippines, 2008

Publication in News Paper
1. Unbalanced Security Council: Analysis from Islamic World Perspective, Republika, 2005
2. Ten Agenda from Israel to occupy Palestine, Republika, 2005
3. Separatism of GAM (Aceh Liberation Movement) from Islamic Perspective, Republika, 2005
4. Framing to Iran Nuclear: Analysis from Islamic Perspective, September 2005
5. Bali Boom II and Free Rider, Republika, 2005
6. The Scenario of Israel to Iran Nuclear, Republika, 2006
7. Iran Nuclear and Jews Propaganda, Republika, 2006
8. Political Trap to HAMAS, Republika, 2006
9. To Explore Poverty in Islamic World, Republika, 2006
10. To Discuss Coup d'état theory, Republika, 2006
11. Lipsticks Democracy, Republika, 2006
12. Metamorphosis of HAMAS, Republika, 2006
13. Looking for Holocaust Actor, Republika, 2006
14. The sign of Israel Decline, Republika 2006
15. Media and Iran War, Koran Tempo, 2006
16. Bush and Political Turbulent, Koran Tempo, 2006
17. Regime Trials and Errors, Koran Tempo, 2006
18. Who are Citizens, Seputar Indonesia, 2006
19. The Construction of Poso Conflict, Republika, 2006
20. Iraq and ABC Theory, Republika, 2007
21. Poso Conflict and Public Trust, Republika, 2007
22. Poso and Fogging DPO (Most Wanted People), Republika, 2007
23. The High Cost of Democracy, Republika, 2007
24. Democracy in Naivete, Republika, 2007
25. To Warn Politicization of Negotiation, Republika, 2007
26. The Tradition of Political Party, Seputar Indonesia, 2007
27. “Trias Politica” without the Publics, Seputar Indonesia , 2007
28. Who are sick: Nation or Regime, Seputar Indonesia, 2007
29. The Innocent Regime, Seputar Indonesia, 2007
30. Iran and the Martyr of Nuclear Democratization, Seputar Indonesia, 2007
31. The bankrupt of Military system, Seputar Indonesia, 2007
32. To understand arrestment of terrorist, Seputar Indonesia, 2007
33. To understand Separatism, Republika, 2007
34. Understanding political “silaturahmi”, Republika, 2007
35. Who does get benefits from Democracy, Republika, 2007
36. Crisis and Sect, Koran Tempo, 2007
37. Marginalization to Poor People, Republika, 2007
38. Disaster after Disaster, Seputar Indonesia, 2007
39. Understanding Monks Action, Seputar Indonesia, 2007
40. Fasting Democracy, Republika, 2007
41. Transformation for Political Party, Koran Tempo, 2008
42. To Politicize National Coalition, Koran Tempo, 2008
43. To Politicize Nobel Award, Koran Tempo, 2008
44. The Politic of “Jenang” (Pie) and “Jeneng” (Honor), Republika, 2008
45. Re-reading Peace Process in Mindanao, Republika, 2008

Publication in Journal
1. Lesson from Iran: Revolution to Democracy, Strategy Journal, Fisipol UMY, 2003
2. Estimating conflict resolution in Islamic World, International Relation Journal, Fisipol UMY, 2005
3. Relation poverty and conflict in South Asia, International Relation Journal, Fisipol UMY, 2006
4. Former Rebellion Movement in Power: A Challenge of Performance Proofing, International Relation Journal, Fisipol UMY, 2007

Leadership Experience
1. Secretary of International Relation Department, Faculty of Social and Political Science, University of Muhammadiyah Yogyakarta, 1999-2000
2. Secretary of Public Service Board, University of Muhammadiyah Yogyakarta, 1999-2000
3. Head of Public Services Board (LPM), University of Muhammadiyah Yogyakarta, 2000-2002
4. Head of Consortium for Public Services Board (LPM) in Yogyakarta, 2002-2003
5. Vice Dean for Academic Affairs, Faculty of Social and Political Science, University of Muhammadiyah Yogyakarta, 2003-2005
6. Director for Grant Competition Program(PHK-A-3) in International Relation Department, Faculty of Social and Political Science, University of Muhammadiyah University, Higher Education Program, Indonesia Ministerial for Education, 2006-2007