Surwandono's Blog

Politisasi Hadiah Nobel

by Surwandono UMY | 22.29 in |

Membaca Politisasi Hadiah Nobel

Surwandono

Dosen Fisipol UMY dan Kandidat Doktor Ilmu Politik UGM

Sangat menarik tulisan Kishore Mahbubani tatkala mengkritisi terhadap pemberian hadiah Nobel kepada Martti Ahtisaari atas upaya menegakkan perdamaian di Aceh. Kishore Mahbubani melihat adanya kekacauan peta mental yang digunakan panitia Nobel Norwegia dalam pengambilan keputusan. Anggota-anggota panitia tampaknya terjerat sebagai tawanan masa lalu. (Koran Tempo, 20 Oktober 2008)

Sejenak kita bisa membandingkan beberapa hadiah nobel yang terkait dengan para actor di daerah konflik, khususnya di kawasan Asia. Setidaknya ada sekitar 4 nama yang bisa dijadikan referensi pembanding. Pertama, Hadiah sekelas Nobel yang diberikan UNESCO, the 1997 Felix Houphouet-Boigny Peace Prize, kepada Nur Misuari dan Presiden Fidel Ramos atas kesediaannya melakukan negosiasi dalam Final Peace Agreement 1996, yang mengakhiri konflik Mindanao yang telah berlangsung selama kurang lebih 30-an tahun. Kedua, Hadiah Nobel Perdamaian juga pernah didapat oleh Ramos Horta, yang diyakini sebagai actor yang sangat gigih untuk memperjuangkan aspirasi politik masyarakat Timor Timur. Ketiga, hadiah nobel juga pernah diterima oleh Muhammad Yunus, seorang ekonom ekonomi kerakyatan di Bangladesh, yang dianggap mampu mentransformasi energi kekerasan kaum terpinggirkan menjadi energi ekonomi yang produktif.

Nobel dan Legistimasi Politik

Hadiah Nobel merupakan penghargaan yang sangat prestisius. Sebuah apresiasi dari masyarakat internasional terhadap dedikasi dan kerja keras seorang individu yang berhasil menciptakan mahakarya yang bisa dirasakan kemanfaatannya secara luas. Dengan hadiah Nobel, seseorang akan menjadi sangat popular, disanjung, bahkan akan di-dewa-kan menjadi “manusia setengah dewa”, manusia yang sangat bijak, yang dapat melintasi zaman dan ruang.

Kondisi ini sangat menarik untuk dianalisis dalam perspektif elit. Sederhananya, hadiah Nobel merupakan sebuah jalan tol yang sangat mulus yang akan mampu mendongkrak legitimasi seorang elite menjadi top elite. Hadiah Nobel diyakini memiliki korelasi positif terhadap bangunan legitimasi yang akan diterima seseorang. Setidaknya, kita bisa membaca dari beberapa fenomena di atas. Pertama, Hadiah the 1997 Felix Houphouet-Boigny Peace Prize, yang diterima Nur Misuari dan Presiden Fidel Ramos, digunakan sedemikian rupa untuk meningkatkan legitimasinya yang semakin melorot. Nur Misuari mempergunakan hadiah ini untuk berkompetisi dengan elit politik di Mindanao, baik di dalam internal MNLF maupun dengan compatriot-nya di MILF yakni Salamat Hashim dan mempertahankan eksistensi politiknya sebagai gubernur ARMM. Fidel Ramos juga mempergunakannya untuk bisa bertahan menjadi kandidat dalam Pemilihan Presiden 1998 melalui upayanya untuk melakukan proses amandemen konstitusi terkait dengan perpanjangan kesempatan menjadi presiden.

Kedua, kondisi ini juga serupa yang dilakukan oleh Ramos Horta tatkala memperoleh hadiah Nobel Perdamaian, sebuah hadiah yang kala itu diyakini public Indonesia sebagai hadiah yang controversial, terkait dengan stigma bahwa Ramos Harto lebih sebagai seorang provocator dibandingkan dengan peacemaker. Terlepas dari masalah tersebut, Horta mampu memanfaatkan moment tersebut untuk mendongkrak legitimasinya untuk bersaing dalam proses politik di Timor Leste dengan al-Katiri. Sehingga dalam proses politik berikutnya, posisi politik Horta melambung dari hanya seorang Menteri Luar Negeri menjadi seorang Perdana Menteri, dan akhirnya menjadi Presiden di Timor Leste.

Ketiga, hal serupa juga terjadi pada Muhammad Yunus. Yunus sebelumnya adalah seorang ekonom murni, yang lebih tertarik bagaimana mendesain sebuah system perbankan yang ramah terhadap kaum miskin. Dari ide inilah, Yunus kemudian mendirikan Germen Bank, sebuah iniasi untuk memberdayakan kaum miskin. Namun, setelah mendapatkan Nobel Perdamaian, Muhammad Yunus kemudian mulai tertarik untuk masuk dalam bursa politik di Bangladesh.

Menjaga Politisasi Nobel

Ada sebuah pelajaran yang menarik dari 3 hadiah nobel yang pernah diterima oleh para elit politik yang sedang melakukan proses pembangunan legitimasi. Nalar ini tampaknya yang juga dipakai oleh Panitia Nobel untuk lebih memilih seorang Martti Ahtisaari seorang pengusaha kayu dan mantan Presiden Finlandia, dibandingkan dengan Muhammad Jusuf Kalla (JK) ataupun Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Baik JK ataupun SBY, adalah elit politik yang sekarang ini juga akan bertarung kembali dalam kompetisi politik dalam Pemilu 2009 maupun Pilpres 2008.

Kishore Mahbubani , menyatakan bahwa ada kemaslahatan lain apabila hadiah itu diberikan kepada seorang Indonesia. Hadiah Nobel Perdamaian untuk SBY-JK akan menunjukkan kepada Barat bahwa muslim bisa menjadi penegak perdamaian dan, sama pentingnya, hadiah ini akan menyampaikan pesan harapan kepada muslim di seluruh dunia yang telah menyaksikan harga diri mereka tergerus oleh cerita kegagalan demi kegagalan yang mereka alami. Aceh merupakan kisah keberhasilan muslim yang spektakuler.

Nalar yang dibangun oleh Kishore Mahbubani sangat menarik, namun yang juga harus dicermati, adalah lebih fair jika hadiah nobel perdamaian tidak hanya diberikan kepada elite atau individu semata, namun juga bisa diberikan kepada masyarakat secara luas untuk mengurangi ruang politisasi hadiah nobel. Hadiah Nobel kepada masyaakat Aceh, tampaknya akan jauh lebih bermakna dibandingkan diberikan kepada seorang individu semata. Nobel perdamaian bagi masyarakat Aceh adalah sebuah pengakuan bahwa untuk mendapatkan kesadaran kritis tentang makna terdalam dari kata damai, masyarakat Aceh harus rela mengorbankan jiwa, harta, dan kemanusiaan yang tidak terkira.

Pilihan terhadap Martti Ahtisaaripun sebenarnya juga telah melahirkan kekhawatiran yang sangat besar bagi public Indonesia, dan Aceh khususnya. Sebagaimana diketahui, Martti Ahtisaari adalah pengusaha besar perkayuaan. Kayu bagi masyarakat Finlandia adalah sesuatu yang sangat penting, dan sebagai capital yang sangat berharga. Pemberiaan hadiah Nobel pada Martti, janganlah kemudian diikuti oleh pemerintah Indonesia untuk memberikan akses yang luas dan khusus bagi Martti untuk bisa mengembangkan bisnis perkayuan di Indonesia. Sebab jika hal ini terjadi, maka sebenarnya partisipasi Martti dalam menjalankan misi perdamaian tersebut karena dorongan ekonomi dibandingkan dorongan kemanusiaa.

Untuk itu, adalah sebuah kenaifan, jika hadiah nobel justru lebih sering dipolitisasi untuk kepentingan elit dan bisnis semata. Masyarakat Aceh memerlukan sebuah bangunan kesadaran kritis, bahwa Hadiah Nobel perdamaian sejatinya untuk memperkuat daya tahan masyarakat di daerah berkonflik seperti halnya Aceh untuk mulai mengapresiasi nilai perdamaian, membangun komunikasi lintas budaya dan politik secara ramah. Semoga.

0 komentar:

Profile

Curicullum Vitae

1. Name: Surwandono,S.Sos, M.Si
2. Place and Birth: Bantul, May 2 , 1971
3. Sex: Man
4. Address: Kadirojo RT 09 Bantul Yogyakarta Indonesia 55713
5. Mobile Phone: +628562880312
6. e-mail: surwan04@yahoo.com. au
7. Department: International Relation Department
8. University: University of Muhammadiyah Yogyakarta
9. Education: Under-graduate (Airlangga University) Post-Graduate (Gadjah Mada University)and Ph. D candidate in Political Science at Gadjah Mada University

Research
a.The dynamics of Strategic Opportunity and Legislation on Final Peace Agreement 1996 (2008
b. Conflict and Negotiation in Mindanano (2007)
c. Muhammadiyah and The New Islamic Organization (2006)
d. Muhammadiyah and Power 2005
e. Relation between Political Geography and Conflict in Southeast Asia, 2004
f. Conflict and Poverty in South Asia, 2003
g. Conflict Resolution in Islamic Perspective, 2002
h. Relation between Political Geography and Conflict in Middle East, 2001
i. The Political Thought of Ibnu Taimiyyah and Ghazali About Islamic State, 1999
j. Democratization in Islamic World: The Studies of Democratization in Pakistan and Iran, 1999
k. Women Leadership in Islamic World: The Study of Women Leadership in Pakistan, 1998

Book
Islamic Political Thought, Yogyakarta, LPPI UMY, 2000
International Conference of Social and Humanitarian (ICOSH), on Universitas Kebangsaan Malaysia, March, 13-15 2007, Former Rebellion Movement in Power: A Challenge of Performance Proofing

Local, National and International Presentation, Trainer and Consultant
a. Trainer for Civic Education in Medan, 2003
b. Trainer for Civic Education in Palembang, 2003
c. Trainer for Civic Education in Yogyakarta, 2003
d. Trainer for Student Leadership in Yogyakarta, 2006
e. Presenter on Iran Nuclear Seminar in Yogyakarta, , 2006
f. Presenter on Iraq Conflict Seminar in Yogyakarta, 2007
g. Writer for Academic Writing for RPP (Draft for Government Regulation) Sabang, Gadjah Mada University, 2007
h. Consultant and Writer for Document about Kampong Papua Resilience, Partnership Program for Papua, 2008
i. International Conference of Social and Humanitarian (ICOSH), on University Kebangsaan Malaysia, March, 13-15 2007, Former Rebellion Movement in Power: A Challenge of Performance Proofing
j. Advanced Seminar: Focus on The Philippines, August, 4-9, SEASREP, UPI, Diliman, Manila, Philippines, 2008

Publication in News Paper
1. Unbalanced Security Council: Analysis from Islamic World Perspective, Republika, 2005
2. Ten Agenda from Israel to occupy Palestine, Republika, 2005
3. Separatism of GAM (Aceh Liberation Movement) from Islamic Perspective, Republika, 2005
4. Framing to Iran Nuclear: Analysis from Islamic Perspective, September 2005
5. Bali Boom II and Free Rider, Republika, 2005
6. The Scenario of Israel to Iran Nuclear, Republika, 2006
7. Iran Nuclear and Jews Propaganda, Republika, 2006
8. Political Trap to HAMAS, Republika, 2006
9. To Explore Poverty in Islamic World, Republika, 2006
10. To Discuss Coup d'état theory, Republika, 2006
11. Lipsticks Democracy, Republika, 2006
12. Metamorphosis of HAMAS, Republika, 2006
13. Looking for Holocaust Actor, Republika, 2006
14. The sign of Israel Decline, Republika 2006
15. Media and Iran War, Koran Tempo, 2006
16. Bush and Political Turbulent, Koran Tempo, 2006
17. Regime Trials and Errors, Koran Tempo, 2006
18. Who are Citizens, Seputar Indonesia, 2006
19. The Construction of Poso Conflict, Republika, 2006
20. Iraq and ABC Theory, Republika, 2007
21. Poso Conflict and Public Trust, Republika, 2007
22. Poso and Fogging DPO (Most Wanted People), Republika, 2007
23. The High Cost of Democracy, Republika, 2007
24. Democracy in Naivete, Republika, 2007
25. To Warn Politicization of Negotiation, Republika, 2007
26. The Tradition of Political Party, Seputar Indonesia, 2007
27. “Trias Politica” without the Publics, Seputar Indonesia , 2007
28. Who are sick: Nation or Regime, Seputar Indonesia, 2007
29. The Innocent Regime, Seputar Indonesia, 2007
30. Iran and the Martyr of Nuclear Democratization, Seputar Indonesia, 2007
31. The bankrupt of Military system, Seputar Indonesia, 2007
32. To understand arrestment of terrorist, Seputar Indonesia, 2007
33. To understand Separatism, Republika, 2007
34. Understanding political “silaturahmi”, Republika, 2007
35. Who does get benefits from Democracy, Republika, 2007
36. Crisis and Sect, Koran Tempo, 2007
37. Marginalization to Poor People, Republika, 2007
38. Disaster after Disaster, Seputar Indonesia, 2007
39. Understanding Monks Action, Seputar Indonesia, 2007
40. Fasting Democracy, Republika, 2007
41. Transformation for Political Party, Koran Tempo, 2008
42. To Politicize National Coalition, Koran Tempo, 2008
43. To Politicize Nobel Award, Koran Tempo, 2008
44. The Politic of “Jenang” (Pie) and “Jeneng” (Honor), Republika, 2008
45. Re-reading Peace Process in Mindanao, Republika, 2008

Publication in Journal
1. Lesson from Iran: Revolution to Democracy, Strategy Journal, Fisipol UMY, 2003
2. Estimating conflict resolution in Islamic World, International Relation Journal, Fisipol UMY, 2005
3. Relation poverty and conflict in South Asia, International Relation Journal, Fisipol UMY, 2006
4. Former Rebellion Movement in Power: A Challenge of Performance Proofing, International Relation Journal, Fisipol UMY, 2007

Leadership Experience
1. Secretary of International Relation Department, Faculty of Social and Political Science, University of Muhammadiyah Yogyakarta, 1999-2000
2. Secretary of Public Service Board, University of Muhammadiyah Yogyakarta, 1999-2000
3. Head of Public Services Board (LPM), University of Muhammadiyah Yogyakarta, 2000-2002
4. Head of Consortium for Public Services Board (LPM) in Yogyakarta, 2002-2003
5. Vice Dean for Academic Affairs, Faculty of Social and Political Science, University of Muhammadiyah Yogyakarta, 2003-2005
6. Director for Grant Competition Program(PHK-A-3) in International Relation Department, Faculty of Social and Political Science, University of Muhammadiyah University, Higher Education Program, Indonesia Ministerial for Education, 2006-2007