Surwandono's Blog

Jika Tidak Ada Islam

by Surwandono UMY | 22.16 in |

DIALEKTIKA ISLAM DAN KEKERASAN

SURWANDONO (Dosen Fisipol UMY dan Kandidat Doktor Ilmu Politik UGM)

Islam, sebuah agama yang sedang mengalami kontraksi luar dan dalam. Kontraksi dari luar berupa suatu konstruksi bahwa Islam adalah agama yang sangat berdekatan dengan perilaku ekstrim dan kekerasan.

Ka’bah: Peradaban Islam

Adalah seorang Karl Marx yang terkenal melakukan gugatan-gugatan terhadap kemapanan agama dan materialism. Dalam pandangannya, ada suatu relasi yang kuat antara watak/ide sebuah sebuah isme/agama dengan artefak dan bangunan monument-monumennya. Kritik terbesar Marx terhadap tradisi artefek dan bangunan monument adalah adanya suatu korelasi besar antara agama atau isme dengan kekerasan, darah dan revolusi. Sederhannya, 7 bangunan monumental dunia, meskipun sekarang sudah mengalami “revisi”, merupakan representasi nalar agama dan isme-isme dunia yang kental dengan aroma penindasan.

Dalam pandangan Marx, semua agama telah merepresesntasikan tradisi kekerasan dalam membangun peradaban, yang secara sederhana tergambar dalam bangunan bersejarahnya. Mari kita kritik pendapat Marx ini. Dalam pandangan penulis, ada beberapa fakta yang logic dari pernyataan Marx, jika kita menelisik sejarah kemanusiaan, hampir semua bangunan monumental dilakukan dengan tradisi kerja paksa demi mendapatkan kehormatan dan kewibawaan. Dari bangunan collosium, menara menjulang tinggi, tembok besar membentang, bangunan yang luas dan tinggi, ataupun jalan-jalan monumental. Secara kasat mata bisa dibandingkan dengan keadaan sekarang, bagaimana situs bangunan bersejarah ketika mengalami kerusakan maka akan menelan biaya yang sangat besar. Itu saja hanya dalam konteks merehap bukan membangun. Daendales ketika membuat jalan Anyer-Panarukan dengan kerja paksa (stelsel), demikian pula ketika pemerintah Jepang membangun jaringan kereta api maupun lapangan terbang di Indonesia juga menggunakan modus yang sama, yakni kerja paksa atau kerja rodi.

Kabah: Bangunan Tak-Berdarah

Bagaimana dengan bangunan monumental Islam ? Apakah kritik Marx terhadap “tradisi darah” peradaban Islam termanifestasikan dalam Ka’bah. Marx harus berfikir keras untuk menyakinkan dunia bahwa bangunan Ka’bah di Makkah telah memakan korban, dan dibangun dengan cara kerja paksa. Dan dipastikan sekuat apapun argument Marx, dipastikan argumennya tidak pernah mencapai momentum. Mengapa ?

Ka’bah merupakan representasi “the simple building”, masyarakat akan mudah mempercayai berita dari Al-Qur’an bahwa Nabi Ibrahim dan Ismail telah berperan besar dalam meninggikan dan mengokohkan kembali bangunan Ka’bah. Hal ini bisa dijamin dari berita sejarah, baik dalam bentuk mitos atau legenda, yang tidak pernah menyembunyikan berita pendirian Ka’bah dengan cerita berdarah. Sangatlah berbeda dengan bangunan monumental lainnya, yang memerlukan legenda maupun mitos untuk menyembunyikan peristiwa berdarah dalam proses pembangunan. Bahkan banyak terungkap, bangunan monumental tersebut telah terkubur ratusan tahun dan kemudian baru ditemukan kembali keberadaannya. Mengapa ? Jawaban yang paling sederhana adalah masyarakat tidak memiliki keterikatan dengan bangunan monumental tersebut, sehingga jangan-jangan keberadaan bangunan tersebut lekat dengan cerita pilu yang menyayat hati. Sehingga mengidentikan Islam sebagai agama “darah”, agama yang tidak punya naluri perdamaian adalah sebuah kesesatan yang nyata dan cerminan orang tersebut tidak memiliki kesadaran sejarah.

Namun, banyak kalangan orientalis mencoba mencari nilai “darah” untuk meruntuhkan tradisi “salam” dengan menggunakan situs okupasi yang pernah dilakukan oleh regim-regim Islam. Dengan menguak proses okupasi (pendudukan) regim Islam terhadap suatu wilayah diharapkan akan dapat menemukan bukti kuat bahwa Islam merupakan agama “darah”. Namun kembali lagi upaya tersebut tidak mendapatkan momentum sejarah secara berarti.

Seorang Muhammad Imarah mencoba memberikan klarifikasi yang sangat menarik dan fair tentang hal ini dengan membandingkan derajat kekerasan okupasi regim Islam dengan regim-regim lainnya. Terdapat persamaan besar dalam kilasan sejarah dunia, bahwa okupasi suatu kekuasaan atas fihak lain identik dengan politik genosida dan inkuisisi. Sebagaimana pula yang dialami regim Abbasiyah ketika diratakan dengan tanah oleh Hulagu Khan, ataupun regim Islam Andalusia yang diratakan dengan tanah lewat politik Inkuisisi oleh Ratu Isabella. Regim emperium klasik semisal Yunani, Sparta, Athena, Persia, Romawi, Mongolia ketika menaklukan suatu wilayah pasti dengan politik “berdarah”. Hal ini pulalah yang terjadi dalam scenario perang Dunia I dan II, yang menempatkan fihak yang kalah, benar-benar jadi abu dan pesakitan.

Bagaimana dengan okupasi Islam; fakta sejarah menunjukkan teramat sedikit fakta yang bisa ditunjukkan sejarah untuk membenarkan bahwa regim Islam melakukan politik bumi-hangus dan genosida. Imarah menyatakan bahwa tidak bisa dipungkiri terdapat kekerasan dalam proses penguasaan wilayah oleh regim Islam, namun dengan catatan kaki, bahwa kekerasan tersebut tidaklah sebanding dengan kekerasan yang pernah dilakukan oleh regim-regim non Islam.

Sejarah penguasaan Makkah oleh Rasulullah akan memberikan contoh terbaik, bahwa proses okupasi Islam berjalan dengan damai. Tidak ada politik balas dendam yang dimobilisasi secara massal, tidak ada ladang pembantaian dan pembuatan bangunan dengan menggunakan tengkorak masyarakat yang ditaklukan. Kebijakan penaklukan mutakhir yang dilakukan Serbia atas Bosnia, Afhanistan dan Irak oleh AS, terus menunjukkan bahwa tradisi okupasi yang dilakukan masyarakat non muslim atas masyarakat Muslim belumlah berubah; Genosida dan inkuisisi.

Menjadi tanggung jawab bersama bagi umat Islam seluruh dunia untuk menunjukkan pada dunia bahwa Islam adalah agama kasih sayang. Kalaupun sekarang ini terdapat sekelompok kaum muslimin memilih melakukan aksi kekerasan terhadap komunitas lain, dipastikan pasti memiliki riwayat yang sangat khusus, namun yang lebih penting bahwa mayoritas kaum muslimin tidak memilih tradisi kekerasan untuk menunjukan peradaban Islam. Wallohu A’lam.

0 komentar:

Profile

Curicullum Vitae

1. Name: Surwandono,S.Sos, M.Si
2. Place and Birth: Bantul, May 2 , 1971
3. Sex: Man
4. Address: Kadirojo RT 09 Bantul Yogyakarta Indonesia 55713
5. Mobile Phone: +628562880312
6. e-mail: surwan04@yahoo.com. au
7. Department: International Relation Department
8. University: University of Muhammadiyah Yogyakarta
9. Education: Under-graduate (Airlangga University) Post-Graduate (Gadjah Mada University)and Ph. D candidate in Political Science at Gadjah Mada University

Research
a.The dynamics of Strategic Opportunity and Legislation on Final Peace Agreement 1996 (2008
b. Conflict and Negotiation in Mindanano (2007)
c. Muhammadiyah and The New Islamic Organization (2006)
d. Muhammadiyah and Power 2005
e. Relation between Political Geography and Conflict in Southeast Asia, 2004
f. Conflict and Poverty in South Asia, 2003
g. Conflict Resolution in Islamic Perspective, 2002
h. Relation between Political Geography and Conflict in Middle East, 2001
i. The Political Thought of Ibnu Taimiyyah and Ghazali About Islamic State, 1999
j. Democratization in Islamic World: The Studies of Democratization in Pakistan and Iran, 1999
k. Women Leadership in Islamic World: The Study of Women Leadership in Pakistan, 1998

Book
Islamic Political Thought, Yogyakarta, LPPI UMY, 2000
International Conference of Social and Humanitarian (ICOSH), on Universitas Kebangsaan Malaysia, March, 13-15 2007, Former Rebellion Movement in Power: A Challenge of Performance Proofing

Local, National and International Presentation, Trainer and Consultant
a. Trainer for Civic Education in Medan, 2003
b. Trainer for Civic Education in Palembang, 2003
c. Trainer for Civic Education in Yogyakarta, 2003
d. Trainer for Student Leadership in Yogyakarta, 2006
e. Presenter on Iran Nuclear Seminar in Yogyakarta, , 2006
f. Presenter on Iraq Conflict Seminar in Yogyakarta, 2007
g. Writer for Academic Writing for RPP (Draft for Government Regulation) Sabang, Gadjah Mada University, 2007
h. Consultant and Writer for Document about Kampong Papua Resilience, Partnership Program for Papua, 2008
i. International Conference of Social and Humanitarian (ICOSH), on University Kebangsaan Malaysia, March, 13-15 2007, Former Rebellion Movement in Power: A Challenge of Performance Proofing
j. Advanced Seminar: Focus on The Philippines, August, 4-9, SEASREP, UPI, Diliman, Manila, Philippines, 2008

Publication in News Paper
1. Unbalanced Security Council: Analysis from Islamic World Perspective, Republika, 2005
2. Ten Agenda from Israel to occupy Palestine, Republika, 2005
3. Separatism of GAM (Aceh Liberation Movement) from Islamic Perspective, Republika, 2005
4. Framing to Iran Nuclear: Analysis from Islamic Perspective, September 2005
5. Bali Boom II and Free Rider, Republika, 2005
6. The Scenario of Israel to Iran Nuclear, Republika, 2006
7. Iran Nuclear and Jews Propaganda, Republika, 2006
8. Political Trap to HAMAS, Republika, 2006
9. To Explore Poverty in Islamic World, Republika, 2006
10. To Discuss Coup d'état theory, Republika, 2006
11. Lipsticks Democracy, Republika, 2006
12. Metamorphosis of HAMAS, Republika, 2006
13. Looking for Holocaust Actor, Republika, 2006
14. The sign of Israel Decline, Republika 2006
15. Media and Iran War, Koran Tempo, 2006
16. Bush and Political Turbulent, Koran Tempo, 2006
17. Regime Trials and Errors, Koran Tempo, 2006
18. Who are Citizens, Seputar Indonesia, 2006
19. The Construction of Poso Conflict, Republika, 2006
20. Iraq and ABC Theory, Republika, 2007
21. Poso Conflict and Public Trust, Republika, 2007
22. Poso and Fogging DPO (Most Wanted People), Republika, 2007
23. The High Cost of Democracy, Republika, 2007
24. Democracy in Naivete, Republika, 2007
25. To Warn Politicization of Negotiation, Republika, 2007
26. The Tradition of Political Party, Seputar Indonesia, 2007
27. “Trias Politica” without the Publics, Seputar Indonesia , 2007
28. Who are sick: Nation or Regime, Seputar Indonesia, 2007
29. The Innocent Regime, Seputar Indonesia, 2007
30. Iran and the Martyr of Nuclear Democratization, Seputar Indonesia, 2007
31. The bankrupt of Military system, Seputar Indonesia, 2007
32. To understand arrestment of terrorist, Seputar Indonesia, 2007
33. To understand Separatism, Republika, 2007
34. Understanding political “silaturahmi”, Republika, 2007
35. Who does get benefits from Democracy, Republika, 2007
36. Crisis and Sect, Koran Tempo, 2007
37. Marginalization to Poor People, Republika, 2007
38. Disaster after Disaster, Seputar Indonesia, 2007
39. Understanding Monks Action, Seputar Indonesia, 2007
40. Fasting Democracy, Republika, 2007
41. Transformation for Political Party, Koran Tempo, 2008
42. To Politicize National Coalition, Koran Tempo, 2008
43. To Politicize Nobel Award, Koran Tempo, 2008
44. The Politic of “Jenang” (Pie) and “Jeneng” (Honor), Republika, 2008
45. Re-reading Peace Process in Mindanao, Republika, 2008

Publication in Journal
1. Lesson from Iran: Revolution to Democracy, Strategy Journal, Fisipol UMY, 2003
2. Estimating conflict resolution in Islamic World, International Relation Journal, Fisipol UMY, 2005
3. Relation poverty and conflict in South Asia, International Relation Journal, Fisipol UMY, 2006
4. Former Rebellion Movement in Power: A Challenge of Performance Proofing, International Relation Journal, Fisipol UMY, 2007

Leadership Experience
1. Secretary of International Relation Department, Faculty of Social and Political Science, University of Muhammadiyah Yogyakarta, 1999-2000
2. Secretary of Public Service Board, University of Muhammadiyah Yogyakarta, 1999-2000
3. Head of Public Services Board (LPM), University of Muhammadiyah Yogyakarta, 2000-2002
4. Head of Consortium for Public Services Board (LPM) in Yogyakarta, 2002-2003
5. Vice Dean for Academic Affairs, Faculty of Social and Political Science, University of Muhammadiyah Yogyakarta, 2003-2005
6. Director for Grant Competition Program(PHK-A-3) in International Relation Department, Faculty of Social and Political Science, University of Muhammadiyah University, Higher Education Program, Indonesia Ministerial for Education, 2006-2007