Surwandono's Blog

Demokrasi dan Kemakmuran

by Surwandono UMY | 22.13 in |

BELAJAR DEMOKRASI DARI BOTSWANA

SURWANDONO (Dosen Fisipol UMY dan Kandidat Doktor Ilmu Politik UGM)

Botswana merupakan salah satu Negara di bagian selatan benua Afrika yang sering terlupakan dalam sejarah demokrasi dunia. Memang wajar Botswana tidak begitu dikenal oleh public kebanyakan, karena memang letaknya sangat jauh dan tidak memiliki ragam kontroversi dan konflik yang melilitnya. Namun bukanlah suatu kewajaran jika KPU Indonesia yang akan melakukan roadshow supervise pelaksanaan Pemilu di luar negeri, jika tidak mengamati dari dekat proses demokrasi di Botswana yang sedemikian mengesankan. Apakah karena KPU tidak memiliki pengetahuan tentang situs demokrasi Botswana, hanya anggota KPU yang paling tahu. Namun jika sampai tidak tahu tentang keunggulan demokrasi Botswana, sungguh “kebangetan” sekali.

Botswana memiliki keunggulan yang sangat spesifik dalam proses perkembangan demokrasi di Afrika bahkan di dunia, yakni Botswana mampu memadukan logika demokrasi dengan logika kemakmuran. Logika ini hampir-hampir tidak ditemukan dalam banyak pengalaman pendalaman demokrasi di berbagai Negara. Demokrasi selama ini justru akan berkembang di tengah masyarakat yang berkemakmuran, sebagaimana yang telah dikembangkan oleh teori modernisasi dan demokrasi dari Martin Seymour Lipset (1980). Namun dalam perkembangannya, teori Lipset tidak mendapatkan banyak momentum di beberapa Negara di kawasan Asia pada umumnya, kemakmuran bukan menjadi preseden bagi public dan elit untuk memilih system politik yang berbasis demokratis. Justru beberapa Negara makmur di Asia lebih memilih system politik yang berbasis kerajaan yang kurang demokratis sampai pilihan kebijakan semi-authoritarian untuk tetap bisa mempertahankan kemakmuran dan kekuasaan.(Clark D Neher dan Ross Marlay, 1995).

Demokrasi ala Botswana

Botswana sebuah Negara yang terkunci oleh negara-negara di kawasan Afrika Selatan, tanah yang sangat kering, tidak memiliki akses laut sehingga sering dikenal dengan sebutan landlocked. Sebelum memperoleh kemerdekaan di 1966 dari pemerintah colonial Inggris, Botswana bernama Bechuanaland dan nama Botswana diambil dari nama suku majoritas yakni Tswana.

Melihat gambaran awal Botswana, banyak kalangan akan memastikan bahwa politik dan ekonomi Botswana tidak berbeda dengan negara tetangganya, seperti Namibia, Zimbabwe, dan Angola, yang rentan dengan konflik social kemudian membuat institusionalisasi demokrasi mengalami jalan buntu, demikian pula institusionalisasi kemakmuran akhirnya juga tergadaikan. Hanya Afrika Selatan sajalah Negara di kawasan Afrika yang memiliki derajat kemakmuran yang relative sama dengan Botswana.

Secara harafiah memang sulit membayangkan bagaimana Negara yang tidak memiliki asset keluar menjadi Negara yang makmur dalam politik dan ekonomi. Memang tidak dipungkiri bahwa Botswana memiliki situs barang tambang yang memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi seperti emas, perak, dan bahkan uranium. Namun tidak semua Negara yang memiliki asset sumber daya alam seperti Botswana mampu menghasilkan pelembagaan politik dan kemakmuran secara bersama-sama. Alih-alih membangun kemakmuran, sumber daya alam yang melimpah justru menjadi biang masalah dan konflik yang tidak berkesudahan seperti halnya di Namibia, Angola maupun Zimbabwe atau barangkali Indonesia.

Adalah John Gerring, Philip Bond, William T Barndt, Carola Moreno (2005) dalam Democracy and Economic Growth yang mengambil sampling Botswana sebagai negara dunia ketiga yang demokratis dan berkemakmuran karena Botswana mampu mengembangkan penataan 4 modal yakni social, human, dan political secara professional. Social capital sendiri ditandai dengan semakin menguatnya nilai-nilai akuntabilitas public, menguatnya keterlibatan dan kemampuan publik untuk mengkritisi setiap produk kebijakan yang melemahkan kondisi ekonomi di masyarakat. Masyarakat bukan lagi menjadi beban bagi akselerasi ekonomi, namun justru menjadi pendorong dan katalisator bagi pertumbuhan ekonomi.

Sedangkan human capital ditandai semakin banyaknya orang yang cerdas, kreatif (Alex Inkeles,1975) sebagai bagian dari kesadaran untuk berprestasi (David Mc Clelend, 1985). Kondisi ini berimplikasi terhadap ketersediaan orang yang akan mengisi jabatan public yang berkompeten dan berkomitmen semakin banyak. Sehingga jabatan public akan diisi oleh orang-orang yang benar-benar berkarakter demokratis dan professional.

Political capital merupakan sebuah kondisi yang ditandai dengan semakin melembaganya proses making law in, terciptanya tertib dan sistem hukum yang didukung dengan instrument penegakan hukum. Kondisi ini akan meningkatkan derajat kepastian hukum dalam masyarakat. Studi yang dilakukan oleh Berring dkk, terhadap Botswana menunjukan bahwa terciptanya tertib hukum di masyarakat akan menjadi variable penting bagi hadirnya penanaman modal, baik domestic maupun asing secara fair.

Di tahun 1966 Botswana merupakan salah satu negara miskin dan subsisten di Afrika Selatan, namun seiring dengan penerapan demokrasi secara baik di 1990 telah berimplikasi terhadap transformasi ekonomi secara signifikan. Botswana menjadi negara dengan angka pertumbuhan tertinggi di Afrika bahkan dunia, sehingga di tahun 2005 pendapatan perkapitanya telah melonjak sampai 1000%, dari angka sekitar US$ 500 menjadi US$ 5845.

Bagaimana dengan Indonesia?

Kasus di Indonesia, demokrasi belum mampu melahirkan ketiga hal tersebut secara sinergis. Dalam konteks social capital, Indonesia sudah mengalami peningkatan cukup berarti, yang ditandai dengan semakin banyaknya kelompok kritis yang mengkritisi kebijakan dan kinerja pemerintah, legislative maupun yudikatif. Namun sayangnya, meningkatnya capital social ini tidak diiringi dengan keterserapan human capital, yang terdiri dari kelompok kritis, cerdas, progresif, muda dalam lembaga public. Contoh yang paling hangat adalah sangat rendahnya kelompok kritis ke dalam daftar caleg dari partai politik.

Ketidakmasifan kemunculan generasi baru atau muda lebih disebabkan masih kuatnya keinginan generasi tua yang sudah mapan namun tidak kompeten untuk tetap bertahan. Idiom pemuda sebagai modal social masa depan sering digunakan sebagai bentuk persuasi golongan tua untuk tetap berkuasa. Pos-pos public-politik lebih banyak diisi oleh orang yang “beruang” atau generasi “cukong” daripada generasi “demokratis.

Implikasi ketidakberadaan human capital dalam jabatan public melahirkan proses making in law menjadi cacat, bermainnya kelompok “cukong” membuat aturan perundangan yang berkaitan dengan akselerasi ekonomi menjadi bias kepentingan. Proses pembuatan UU menjadi sarat dengan transaksi politik ekonomi, yang ditandai dengan menguatnya praktek suap dan kotor lainnya. Sederet nama-nama tokoh penting partai politik, eksekutif, dan yudikatif yang terbukti melakukan praktik kotor telah menjadi bukti bahwa terdapat persoalan yang sangat serius dalam persoalan human capital.

Di sisi yang lain, political capital juga mengalami kontraksi yang sangat serius akibat perilaku tidak terpuji tersebut. Meskipun harus diakui bahwa tidak semua jabatan public telah ternoda oleh pejabat yang korup, laksana peribahasa “karena nila setitik rusak susu sebelangga”. Publik investor akan melakukan politik “pukul rata” bahwa law in making di Indonesia adalah sangat korup sehingga para investor akan enggan berinvestasi dan bahkan mengalihkan investasinya ke negara lain, seperti yang telah terjadi dalam dua tahun terakhir.

0 komentar:

Profile

Curicullum Vitae

1. Name: Surwandono,S.Sos, M.Si
2. Place and Birth: Bantul, May 2 , 1971
3. Sex: Man
4. Address: Kadirojo RT 09 Bantul Yogyakarta Indonesia 55713
5. Mobile Phone: +628562880312
6. e-mail: surwan04@yahoo.com. au
7. Department: International Relation Department
8. University: University of Muhammadiyah Yogyakarta
9. Education: Under-graduate (Airlangga University) Post-Graduate (Gadjah Mada University)and Ph. D candidate in Political Science at Gadjah Mada University

Research
a.The dynamics of Strategic Opportunity and Legislation on Final Peace Agreement 1996 (2008
b. Conflict and Negotiation in Mindanano (2007)
c. Muhammadiyah and The New Islamic Organization (2006)
d. Muhammadiyah and Power 2005
e. Relation between Political Geography and Conflict in Southeast Asia, 2004
f. Conflict and Poverty in South Asia, 2003
g. Conflict Resolution in Islamic Perspective, 2002
h. Relation between Political Geography and Conflict in Middle East, 2001
i. The Political Thought of Ibnu Taimiyyah and Ghazali About Islamic State, 1999
j. Democratization in Islamic World: The Studies of Democratization in Pakistan and Iran, 1999
k. Women Leadership in Islamic World: The Study of Women Leadership in Pakistan, 1998

Book
Islamic Political Thought, Yogyakarta, LPPI UMY, 2000
International Conference of Social and Humanitarian (ICOSH), on Universitas Kebangsaan Malaysia, March, 13-15 2007, Former Rebellion Movement in Power: A Challenge of Performance Proofing

Local, National and International Presentation, Trainer and Consultant
a. Trainer for Civic Education in Medan, 2003
b. Trainer for Civic Education in Palembang, 2003
c. Trainer for Civic Education in Yogyakarta, 2003
d. Trainer for Student Leadership in Yogyakarta, 2006
e. Presenter on Iran Nuclear Seminar in Yogyakarta, , 2006
f. Presenter on Iraq Conflict Seminar in Yogyakarta, 2007
g. Writer for Academic Writing for RPP (Draft for Government Regulation) Sabang, Gadjah Mada University, 2007
h. Consultant and Writer for Document about Kampong Papua Resilience, Partnership Program for Papua, 2008
i. International Conference of Social and Humanitarian (ICOSH), on University Kebangsaan Malaysia, March, 13-15 2007, Former Rebellion Movement in Power: A Challenge of Performance Proofing
j. Advanced Seminar: Focus on The Philippines, August, 4-9, SEASREP, UPI, Diliman, Manila, Philippines, 2008

Publication in News Paper
1. Unbalanced Security Council: Analysis from Islamic World Perspective, Republika, 2005
2. Ten Agenda from Israel to occupy Palestine, Republika, 2005
3. Separatism of GAM (Aceh Liberation Movement) from Islamic Perspective, Republika, 2005
4. Framing to Iran Nuclear: Analysis from Islamic Perspective, September 2005
5. Bali Boom II and Free Rider, Republika, 2005
6. The Scenario of Israel to Iran Nuclear, Republika, 2006
7. Iran Nuclear and Jews Propaganda, Republika, 2006
8. Political Trap to HAMAS, Republika, 2006
9. To Explore Poverty in Islamic World, Republika, 2006
10. To Discuss Coup d'état theory, Republika, 2006
11. Lipsticks Democracy, Republika, 2006
12. Metamorphosis of HAMAS, Republika, 2006
13. Looking for Holocaust Actor, Republika, 2006
14. The sign of Israel Decline, Republika 2006
15. Media and Iran War, Koran Tempo, 2006
16. Bush and Political Turbulent, Koran Tempo, 2006
17. Regime Trials and Errors, Koran Tempo, 2006
18. Who are Citizens, Seputar Indonesia, 2006
19. The Construction of Poso Conflict, Republika, 2006
20. Iraq and ABC Theory, Republika, 2007
21. Poso Conflict and Public Trust, Republika, 2007
22. Poso and Fogging DPO (Most Wanted People), Republika, 2007
23. The High Cost of Democracy, Republika, 2007
24. Democracy in Naivete, Republika, 2007
25. To Warn Politicization of Negotiation, Republika, 2007
26. The Tradition of Political Party, Seputar Indonesia, 2007
27. “Trias Politica” without the Publics, Seputar Indonesia , 2007
28. Who are sick: Nation or Regime, Seputar Indonesia, 2007
29. The Innocent Regime, Seputar Indonesia, 2007
30. Iran and the Martyr of Nuclear Democratization, Seputar Indonesia, 2007
31. The bankrupt of Military system, Seputar Indonesia, 2007
32. To understand arrestment of terrorist, Seputar Indonesia, 2007
33. To understand Separatism, Republika, 2007
34. Understanding political “silaturahmi”, Republika, 2007
35. Who does get benefits from Democracy, Republika, 2007
36. Crisis and Sect, Koran Tempo, 2007
37. Marginalization to Poor People, Republika, 2007
38. Disaster after Disaster, Seputar Indonesia, 2007
39. Understanding Monks Action, Seputar Indonesia, 2007
40. Fasting Democracy, Republika, 2007
41. Transformation for Political Party, Koran Tempo, 2008
42. To Politicize National Coalition, Koran Tempo, 2008
43. To Politicize Nobel Award, Koran Tempo, 2008
44. The Politic of “Jenang” (Pie) and “Jeneng” (Honor), Republika, 2008
45. Re-reading Peace Process in Mindanao, Republika, 2008

Publication in Journal
1. Lesson from Iran: Revolution to Democracy, Strategy Journal, Fisipol UMY, 2003
2. Estimating conflict resolution in Islamic World, International Relation Journal, Fisipol UMY, 2005
3. Relation poverty and conflict in South Asia, International Relation Journal, Fisipol UMY, 2006
4. Former Rebellion Movement in Power: A Challenge of Performance Proofing, International Relation Journal, Fisipol UMY, 2007

Leadership Experience
1. Secretary of International Relation Department, Faculty of Social and Political Science, University of Muhammadiyah Yogyakarta, 1999-2000
2. Secretary of Public Service Board, University of Muhammadiyah Yogyakarta, 1999-2000
3. Head of Public Services Board (LPM), University of Muhammadiyah Yogyakarta, 2000-2002
4. Head of Consortium for Public Services Board (LPM) in Yogyakarta, 2002-2003
5. Vice Dean for Academic Affairs, Faculty of Social and Political Science, University of Muhammadiyah Yogyakarta, 2003-2005
6. Director for Grant Competition Program(PHK-A-3) in International Relation Department, Faculty of Social and Political Science, University of Muhammadiyah University, Higher Education Program, Indonesia Ministerial for Education, 2006-2007