Surwandono's Blog

Politik Demokrasi Pedagogik

by Surwandono UMY | 22.28 in |

POLITIK DEMOKRASI PEDAGOGIK

SURWANDONO

DOSEN FISIPOL UMY DAN KANDIDAT DOKTOR ILMU POLITIK UGM

Bangsa Indonesia sedang mau menapaki demokrasi gelombang ke-3 pasca reformasi di tahun 1998. Berbagai kebijakan dan aturan telah ditelurkan selama 10 tahun terakhir agar demokrasi yang diyakini sebagai panasea (obat mujarab) bagi penyakit kekuasaan bisa bekerja dengan baik. Namun dalam batas tertentu, demokrasi di Indonesia belum menunjukan arah perubahan manejemen kekuasaan yang lebih baik. Tradisi korupsi kekuasaan masih senantiasa mewarnai berbagai produk kebijakan yang lahir. Sehingga tidak berlebihan kiranya, jika kualitas demokrasi bangsa ini semenjak reformasi hanya jalan ditempat.

Indonesia yang mulai dilirik sebagai “situs” demokrasi yang baik dalam konteks prosedural, namun tetap tidak mampu mengurangi indeks penyalahangunaan kekuasaan. Hampir setiap tahun TII menghadiahi kado pahit kepada manajemen regim republik ini karena managemen bangsa ini masih kuat dengan tradisi korupsi. Indonesia pun belum bisa keluar sebagai negara dengan tingkat penegakan hukum yang setengah hati dan tebang pilih. Meskipun juga harus diakui, KPK telah menjalankan peran yang serius dalam 1 tahun terakhir ini.

Politik PedagogiK

Tulisan tentang Pedagogi mendapatkan perhatian seorang Paolo Freire, yang menulis sebuah karya monumental tentang Pedagogi, Pedagogy of the Oppressed. Karya yang mampu membangkitkan nalar kritis dalam memaknai pendidikan. Pendidikan yang sejatinya akan membawa kepada kemampuan untuk bisa berbuat bijak, dan meningkatkan kemandirian namun telah terjadi justru pendidikan menjadi sebuah alat kapitalisme global untuk mengalienasi para pembelajar menjadi kehilangan nalar kritis namun justru melahirkan nalar naif.

Bagaimanakah jika nalar filsafat Freire ini juga dipergunakan untuk mengukur nalar politik demokrasi di Indonesia ?. Pertama, Produk politik demokrasi Indonesia selama ini cenderung menempatkan relasi pemerintah-elit dan rakyat dalam posisi yang tidak egaliter. Elite cenderung memaknai diri sebagai kelompok masyarakat yang lebih dalam segala hal atas rakyat. Bahkan elit memberhak untuk melakukan pendefinisian kebutuhan publik tanpa harus bertanya kepada publik itu sendiri. Sehingga tak ayal lagi banyak produk UU dan kebijakan tidak senafas dengan kebutuhan masyarakat. Dengan logika ini, demokrasi di Indonesia hanyalah menghasilkan fantasi dan ilusi bagi masyarakat. Politik untuk senantiasa “menggurui” fihak lain senantiasa lebih mengedepankan daripada keinginan untuk saling belajar bersama dalam politik demokrasi.

Kedua, Politik demokrasi di Indonesia telah menempatkan capital driven daripada human driven. Hal ini bisa ditemui dengan sangat kentara bahwa demokrasi telah menjadi alat bagi kelompok untuk mendapatkan aset kapital yang lebih besar, baik secara langsung ataupun tidak langsung. Demokrasi telah menjadi area bisnis ekonomi yang baru dalam bukan dengan kemakmuran ekonomi untuk menunjang kualitas demokrasi sebagaimana dikatakan Martin Seymour Lipset. Sehingga fenomena politik uang dalam demokrasi di Indonesia menjadi sangat lazim.

Kandidat-kandidat yang transformative, muda, energik dan demokratis, namun karena tidak memiliki asset keuangan yang memadai hanya menjadi bulan-bulanan partai politik tatkala melakukan penyusunan calon legislative. Namun kandidat yang konservatif, tua, loyo, tidak demokratis, namun memiliki asset keuangan yang memadai menjadi primadona dalam penyusunan calon legislative.

Ketika seseorang telah menjadi elite dalam bangunan demokrasi, yang paling utama difikirkan adalah bagaimana melakukan kapitalisasi nilai demokrasi untuk menghasilkan keuntungan ekonomi guna menembus ongkos menjadi elit politik demokrasi dan bukan memikirkan bagaimana menjalankan praktik demokrasi untuk mengangkat harkat dan martabat kemanusiaan.

Ketiga, demokrasi sejatinya memiliki kemampuan untuk menumbuhkembangkan kesadaran kritis di semua lapisan masyarakat. Sebuah kesadaran yang memungkinkan rakyat mampu mengetahui dan menganalisis struktur yang ada , apakah berfihak kepada publik atau kepada elit, apakah buruk ataukah baik. Demokrasi sebenarnya memberikan ruang luas bagi publik untuk terlibat dalam proses penciptaan struktur yang secara fundamental akan berfihak kepada kepentingan publik.

Namun justru yang terjadi dalam politik demokrasi di Indonesia selama ini adalah sebuah kesadaran naif dan ilutif. Yakni sebuah kesadaran reaktif yang cenderung hanya membenarkan kebijakan yang telah dibuat elit sebagai sistem dan struktur yang sudah baik, mapan dan berfihak kepada publik. Implikasi dari kesadaran naif adalah bagaimana rakyat harus menerima hasil proses demokrasi, dan tidak mempedulikan apakah proses tersebut menguntungkan atau berfihak kepada masyarakat.

Tidak berlebihan kemudian banyak elit partai politik melakukan kritik keras dan mencela terhadap kelompok masyarakat yang memilih golput, tanpa mempedulikan bahwa pilihan golput sebagai pilihan politik meminimalisi dampak demokrasi yang semakin tidak berfihak kepada masyarakat yang semakin miskin dan terpinggirkan. Inilah pertanda bahwa elit politik demokrasi, tetap angkuh bahwa kebenaran politik demokrasi senantiasa bersifat top-down.

Pesta demokrasi pada hakekatnya bukan lagi menjadi pesta publik secara alamiah, namun sebuah pesta yang melibatkan publik sebagai aktor penggembira yang sesungguhnya sebagai “pesta elit”. Maka tidak berlebihan kiranya, politik Indonesia lebih bermakna sebagai politik pedagogik. Pola ini semakin jelas dengan semakin bergaungnya kekuatan politik masyarakat untuk menghidupkan kembali tradisi golput yang pernah marak di era Orde Baru. Bahkan dalam dua Pilkada terakhir, yakni di Jawa Tengah dan Jawa Timur telah mencapai angka di atas 40%. Banyak pentas politik demokrasi di tingkat lokal justru dimenangkan oleh “kotak kosong” dari pada kotak kandidat.

Asumsi golongan putih terhadap politik demokrasi di Indonesia sudah sampai sebuah pemahaman bahwa keterlibatan seseorang dalam mesin dan piranti demokrasi justru malah akan menyebabkan seseorang semakin tertindas. Demokrasi bukan lagi menjadi tempat pembebasan terhadap penindasan namun justru demokrasi memberikan ruang baru bagi lahirnya politik penindasan.

Sudah saatnya pemerintah dan elit politik mulai menyadari bahwa publik menghendaki proses pembelajaran demokrasi melalui metode andragogi, sebuah metode yang mengembangkan semangat egalitarian, pendidikan untuk bersama-sama belajar untuk menciptakan struktur yang bermartabat dan transformatif. Sebuah struktur yang akan mampu mengangkat derajat kesejahteraan politik dan ekonomi manusia. Kita berharap proses politik dalam parade Pilkada , pemilu dan Pilpres, bukanlah paket politik Pedagogik yang meresahkan tetapi paket politik Andragogi yang mensejahterakan. Amin.

0 komentar:

Profile

Curicullum Vitae

1. Name: Surwandono,S.Sos, M.Si
2. Place and Birth: Bantul, May 2 , 1971
3. Sex: Man
4. Address: Kadirojo RT 09 Bantul Yogyakarta Indonesia 55713
5. Mobile Phone: +628562880312
6. e-mail: surwan04@yahoo.com. au
7. Department: International Relation Department
8. University: University of Muhammadiyah Yogyakarta
9. Education: Under-graduate (Airlangga University) Post-Graduate (Gadjah Mada University)and Ph. D candidate in Political Science at Gadjah Mada University

Research
a.The dynamics of Strategic Opportunity and Legislation on Final Peace Agreement 1996 (2008
b. Conflict and Negotiation in Mindanano (2007)
c. Muhammadiyah and The New Islamic Organization (2006)
d. Muhammadiyah and Power 2005
e. Relation between Political Geography and Conflict in Southeast Asia, 2004
f. Conflict and Poverty in South Asia, 2003
g. Conflict Resolution in Islamic Perspective, 2002
h. Relation between Political Geography and Conflict in Middle East, 2001
i. The Political Thought of Ibnu Taimiyyah and Ghazali About Islamic State, 1999
j. Democratization in Islamic World: The Studies of Democratization in Pakistan and Iran, 1999
k. Women Leadership in Islamic World: The Study of Women Leadership in Pakistan, 1998

Book
Islamic Political Thought, Yogyakarta, LPPI UMY, 2000
International Conference of Social and Humanitarian (ICOSH), on Universitas Kebangsaan Malaysia, March, 13-15 2007, Former Rebellion Movement in Power: A Challenge of Performance Proofing

Local, National and International Presentation, Trainer and Consultant
a. Trainer for Civic Education in Medan, 2003
b. Trainer for Civic Education in Palembang, 2003
c. Trainer for Civic Education in Yogyakarta, 2003
d. Trainer for Student Leadership in Yogyakarta, 2006
e. Presenter on Iran Nuclear Seminar in Yogyakarta, , 2006
f. Presenter on Iraq Conflict Seminar in Yogyakarta, 2007
g. Writer for Academic Writing for RPP (Draft for Government Regulation) Sabang, Gadjah Mada University, 2007
h. Consultant and Writer for Document about Kampong Papua Resilience, Partnership Program for Papua, 2008
i. International Conference of Social and Humanitarian (ICOSH), on University Kebangsaan Malaysia, March, 13-15 2007, Former Rebellion Movement in Power: A Challenge of Performance Proofing
j. Advanced Seminar: Focus on The Philippines, August, 4-9, SEASREP, UPI, Diliman, Manila, Philippines, 2008

Publication in News Paper
1. Unbalanced Security Council: Analysis from Islamic World Perspective, Republika, 2005
2. Ten Agenda from Israel to occupy Palestine, Republika, 2005
3. Separatism of GAM (Aceh Liberation Movement) from Islamic Perspective, Republika, 2005
4. Framing to Iran Nuclear: Analysis from Islamic Perspective, September 2005
5. Bali Boom II and Free Rider, Republika, 2005
6. The Scenario of Israel to Iran Nuclear, Republika, 2006
7. Iran Nuclear and Jews Propaganda, Republika, 2006
8. Political Trap to HAMAS, Republika, 2006
9. To Explore Poverty in Islamic World, Republika, 2006
10. To Discuss Coup d'état theory, Republika, 2006
11. Lipsticks Democracy, Republika, 2006
12. Metamorphosis of HAMAS, Republika, 2006
13. Looking for Holocaust Actor, Republika, 2006
14. The sign of Israel Decline, Republika 2006
15. Media and Iran War, Koran Tempo, 2006
16. Bush and Political Turbulent, Koran Tempo, 2006
17. Regime Trials and Errors, Koran Tempo, 2006
18. Who are Citizens, Seputar Indonesia, 2006
19. The Construction of Poso Conflict, Republika, 2006
20. Iraq and ABC Theory, Republika, 2007
21. Poso Conflict and Public Trust, Republika, 2007
22. Poso and Fogging DPO (Most Wanted People), Republika, 2007
23. The High Cost of Democracy, Republika, 2007
24. Democracy in Naivete, Republika, 2007
25. To Warn Politicization of Negotiation, Republika, 2007
26. The Tradition of Political Party, Seputar Indonesia, 2007
27. “Trias Politica” without the Publics, Seputar Indonesia , 2007
28. Who are sick: Nation or Regime, Seputar Indonesia, 2007
29. The Innocent Regime, Seputar Indonesia, 2007
30. Iran and the Martyr of Nuclear Democratization, Seputar Indonesia, 2007
31. The bankrupt of Military system, Seputar Indonesia, 2007
32. To understand arrestment of terrorist, Seputar Indonesia, 2007
33. To understand Separatism, Republika, 2007
34. Understanding political “silaturahmi”, Republika, 2007
35. Who does get benefits from Democracy, Republika, 2007
36. Crisis and Sect, Koran Tempo, 2007
37. Marginalization to Poor People, Republika, 2007
38. Disaster after Disaster, Seputar Indonesia, 2007
39. Understanding Monks Action, Seputar Indonesia, 2007
40. Fasting Democracy, Republika, 2007
41. Transformation for Political Party, Koran Tempo, 2008
42. To Politicize National Coalition, Koran Tempo, 2008
43. To Politicize Nobel Award, Koran Tempo, 2008
44. The Politic of “Jenang” (Pie) and “Jeneng” (Honor), Republika, 2008
45. Re-reading Peace Process in Mindanao, Republika, 2008

Publication in Journal
1. Lesson from Iran: Revolution to Democracy, Strategy Journal, Fisipol UMY, 2003
2. Estimating conflict resolution in Islamic World, International Relation Journal, Fisipol UMY, 2005
3. Relation poverty and conflict in South Asia, International Relation Journal, Fisipol UMY, 2006
4. Former Rebellion Movement in Power: A Challenge of Performance Proofing, International Relation Journal, Fisipol UMY, 2007

Leadership Experience
1. Secretary of International Relation Department, Faculty of Social and Political Science, University of Muhammadiyah Yogyakarta, 1999-2000
2. Secretary of Public Service Board, University of Muhammadiyah Yogyakarta, 1999-2000
3. Head of Public Services Board (LPM), University of Muhammadiyah Yogyakarta, 2000-2002
4. Head of Consortium for Public Services Board (LPM) in Yogyakarta, 2002-2003
5. Vice Dean for Academic Affairs, Faculty of Social and Political Science, University of Muhammadiyah Yogyakarta, 2003-2005
6. Director for Grant Competition Program(PHK-A-3) in International Relation Department, Faculty of Social and Political Science, University of Muhammadiyah University, Higher Education Program, Indonesia Ministerial for Education, 2006-2007